Yakni; Supremasi Kepemimpinan Ulama, Pemisahan Tegas Antar Otoritas, Musyawarah Mufakat sebagai Prinsip Mutlak, Kepemimpinan Kolektif-Kolegial, Anti-Kooptasi dan Anti-Politik Transaksional, Kesinambungan Tradisi dan Keterbukaan Zaman
Adapun arsitektur Kepemimpinan NU, ungkap Gus Salam, struktur kepemimpinan NU disusun dalam satu garis sistemik sebagai berikut yaitu Ahwa, Mustasyar, Majelis Syuriah, Tanfidziyah.
‘’Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, saling menguatkan, dan tidak saling tumpang tindih," ujarnya.
Menurut Gus Salam, ahwa (Ahlul Halli wal ‘Aqdi) memiliki kedudukan dan fungsi sebagai lembaga ad hoc Muktamar, bukan lembaga permanen. Sedangkan Mustasyar: Majelis Hukama NU pemegang otoritas moral tertinggi dalam NU.