Hasil Riset: Banjir Sumatera Dipicu Cuaca Ekstrem Lampaui Standar Mitigasi Nasional

Arief Setyadi , Jurnalis
Sabtu 21 Februari 2026 15:29 WIB
Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA – Hasil riset Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB) didapati banjir Sumatera dipicu curah hujan sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, melampaui kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada.
 
Kajian forensik banjir ini berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Badiri, Garoga, dan Batang Toru, perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika. 

CENAGO menegaskan pentingnya analisis berbasis data dan kajian komprehensif sebelum menarik kesimpulan soal penyebab dan pertanggungjawaban bencana. Berdasarkan riset, kontribusi perubahan tutupan lahan oleh PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS relatif kecil dibandingkan skala faktor cuaca ekstrem.

“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” kata Heri dalam keterangan persnya, dikutip Sabtu (21/2/2026).

Kajian dilakukan dengan menggabungkan digitasi citra satelit, data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat, delineasi DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta parameter standar hidrologi-hidrolika.

Analisis menunjukkan hujan akhir November 2025 mencapai level ekstrem 150–300 mm per hari hingga sangat ekstrem lebih dari 300 mm per hari. Peristiwa ini dipicu anomali presipitasi akibat Siklon Tropis Senyar yang sangat jarang terjadi.

"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," kata Heri.

Temuan tersebut dibahas dalam FGD bertajuk "Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan" pada 18 Februari 2026 di Jakarta. BMKG menyebut kombinasi hujan ekstrem dan longsor memicu banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, termasuk Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Akademisi ITB Ahmad Imam Sadisun menjelaskan longsor terjadi di zona Toba Tuff dengan lereng curam di hulu DAS Garoga dan hutan lindung. Secara geomorfologi, lokasi tambang PT AR yang berbeda sub-DAS dan lebih rendah elevasinya dinilai tidak berkontribusi terhadap banjir Desa Garoga, sementara PT TBS berada di luar DAS tersebut.

Simulasi hidrologi-hidrolika menunjukkan kontribusi PT AR terhadap banjir sebesar 0,32 persen dengan tambahan runoff 0,71 persen; PT NSHE 0,05 persen dan 0,01 persen; serta PT TBS 1,7 persen dengan tambahan runoff 0,06 persen. 

CENAGO menekankan pentingnya penggunaan data geospasial presisi tinggi agar setiap kesimpulan penyebab bencana disusun objektif, terukur, dan proporsional.

“Masih ada pekerjaan rumah sangat besar, yaitu penggunaan data dan informasi, seperti data geoscience, bagi penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah,” pungkasnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya