JAKARTA – Pegiat media sosial sekaligus dokter, Tifauzia Tyassuma meluncurkan buku berjudul Otak Politik Jokowi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). Buku tersebut membahas analisisnya terkait pola dan cara berpikir politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Tifa menjelaskan, alasan tetap menggunakan nama Jokowi secara langsung dalam judul karyanya.
"Buku ini berjudul Otak Politik Jokowi. Kalau saya penakut, saya akan pakai judul Otak Politik Mulyono atau Otak Politik si Jack. Tapi saya tetap menggunakan judul Otak Politik Jokowi. Karena ilmu pengetahuan itu harus jujur, tidak ada yang disembunyikan,” ujarnya.
Tifa menyebut buku tersebut merupakan hasil penelitiannya dengan objek kajian yang ia sebut sebagai “otak politik” Jokowi. Meski mengaku pernah menghadapi proses hukum, ia tetap meluncurkan buku itu agar hasil kajiannya dapat diakses publik.
“Saya menggunakan media buku karena berbeda dengan jurnal. Jurnal membutuhkan waktu lama hingga temuan ilmiahnya bisa dibaca orang,” tuturnya.
Ia menjelaskan, buku dipilih sebagai medium publikasi karena jangkauannya lebih luas dibanding jurnal akademik yang umumnya terbatas pada kalangan tertentu.
“Kalau memang subjek kajian saya adalah otaknya Jokowi, maka saya harus katakan otaknya Jokowi yang saya bedah di buku ini. Kajian saya menggunakan ilmu yang saya kembangkan, yaitu Neuropolitika,” jelasnya.
Menurut Tifa, metode yang digunakan dalam buku tersebut menggabungkan empat dimensi keilmuan, yakni neurosains, psikologi perilaku (behavior), forensik, dan politik kritis. Ia menyebut analisisnya mencakup berbagai aspek fungsi otak, mulai dari bagian depan hingga hipokampus yang berperan dalam memori.
“Saya ingin semua orang bisa mempelajari dan mengkaji otak politik Jokowi. Terutama dalam bagaimana dia menggunakan otaknya selama 10 tahun memimpin negara ini,” ujarnya.
Selain Otak Politik Jokowi, Tifa juga meluncurkan buku lain berjudul Jalan Samurai Akademik: Nalar, Keberanian, dan Tanggung Jawab Ilmiah Dr. Tifa. Buku tersebut merupakan karya kolaboratif sejumlah peneliti dan mahasiswa yang mengkaji pemikiran serta perjalanan akademiknya.
Ia juga menyinggung riset yang tengah dilakukannya bersama sejumlah pihak terkait polemik ijazah Jokowi dan riwayat pendidikan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka.
Tifa mengibaratkan perjuangan akademisi seperti “samurai” yang berjalan di jalan sunyi dan penuh risiko.
“Kalau samurai berisiko kematian, kami merasa risikonya adalah penjara. Tuan kami bukan orang, tapi ilmu pengetahuan dan kebenaran,” pungkasnya.
(Awaludin)