Sebelumnya, Fatih sempat mendapatkan penanganan di RS Lagita Ketahun, namun rumah sakit tersebut hanya melakukan tindakan kegawatdaruratan karena kondisi kesadaran korban menurun, dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang menunjukkan cedera otak berat dan mengancam jiwa.
Karena fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di beberapa rumah sakit di Bengkulu dan Padang penuh, korban akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara, di mana pemindaian otak menunjukkan adanya pendarahan. Fatih menjalani operasi bedah saraf di RS Tiara Sella, namun meninggal dunia sekitar 12 jam setelah tindakan dilakukan.
Hasil Uji BPOM Negatif
Nanik menegaskan, hasil uji laboratorium oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan tidak ditemukan bakteri E. coli maupun indikasi cemaran lain pada sampel makanan MBG yang diperiksa.
"Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif, tidak ada bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain yang mengarah pada keracunan pangan," ujar Nanik.
Lebih lanjut, dari sekitar 1.800 penerima manfaat MBG pada hari tersebut, hanya Fatih yang mengalami gangguan kesehatan.
"Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak," tegas Nanik.
BGN menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Fatih dan mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi, serta menunggu informasi resmi yang bersumber dari pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.
(Awaludin)