Baru Dipilih, Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei Dilaporkan Terluka dalam Perang

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 10 Maret 2026 09:38 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. (Foto: X)
Share :

JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Iran yang baru dipilih, Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka akibat serangan, menurut siaran televisi Iran. Mojtaba, 56 tahun, dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Minggu (9/3/2026), menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel di awal perang.

Laporan tersebut menyebut Mojtaba sebagai 'janbaz', yang berarti terluka oleh musuh, selama “Perang Ramadan,” sebutan untuk konflik yang saat ini berlangsung di Iran.

Tidak ada detail mengenai bagaimana ia terluka, meskipun istri dan ayahnya tewas dalam serangan Israel di Teheran pada hari pertama konflik.

Israel sebelumnya menyatakan akan “menyingkirkan” siapa pun yang menggantikan almarhum Ayatollah Ali Khamenei, serta memperingatkan akan “mengejar setiap penerus” Ali Khamenei.

 

Dalam sebuah unggahan di X berbahasa Persia, IDF menulis: “Setelah menetralisir tiran Khamenei, rezim teroris Iran berusaha membangun kembali dirinya dan memilih pemimpin baru. Kami ingin memberi tahu Anda bahwa tangan Negara Israel akan terus mengejar setiap penerus dan setiap orang yang berusaha menunjuk penerus.”

Gambar yang disiarkan televisi pemerintah Iran menunjukkan kerumunan orang berteriak dan mengibarkan bendera di jalan-jalan Teheran setelah pengumuman peran baru Mojtaba sebagai pemimpin. Massa tampak meneriakkan: “Allahu Akbar, Khamenei Rahbar” yang berarti “Allah Maha Besar, Khamenei adalah pemimpin.”

Hal ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa pemimpin Iran yang baru dilantik akan kesulitan mempertahankan kekuasaan kecuali mendapat dukungan Washington. Berbicara kepada ABC News pada Minggu (8/3/2026), Trump mengisyaratkan bahwa masa depan kepemimpinan Iran dapat bergantung pada persetujuan AS.

 

“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump kepada ABC News. “Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama. Kami ingin memastikan bahwa kami tidak perlu kembali setiap 10 tahun, karena Anda tidak memiliki presiden seperti saya yang tidak akan melakukan hal itu.”

Trump menegaskan tujuannya adalah mencegah terulangnya konfrontasi terkait ambisi nuklir Iran. Ia menambahkan: “Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi membiarkan mereka memiliki senjata nuklir.”

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya