JAKARTA – Amerika Serikat (AS) mengirimkan sekitar 2.500 Marinir dan setidaknya satu kapal serbu amfibi ke Timur Tengah, menurut laporan. Pengiriman Marinir ini merupakan penguatan pasukan AS yang signifikan di kawasan, dan kemungkinan menjadi sinyal Washington akan meluncurkan operasi darat ke Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa elemen-elemen dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan kapal serbu amfibi USS Tripoli telah diperintahkan untuk menuju Timur Tengah.
"Sekitar 2.500 Marinir dan setidaknya satu kapal serbu amfibi sedang menuju Timur Tengah," kata pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas rencana militer yang sensitif.
Pengerahan ini akan menandai penambahan pasukan besar ke wilayah tersebut, kata pejabat itu.
Unit Ekspedisi Marinir dirancang untuk merespons krisis dengan cepat. Meskipun mereka dilatih untuk melakukan serangan amfibi, mereka juga mengkhususkan diri dalam mengamankan kedutaan, mengevakuasi warga sipil, dan menanggapi bencana kemanusiaan.
Para pejabat mengatakan pengerahan ini tidak serta merta berarti operasi darat akan segera terjadi.
"Langkah ini akan menandai penambahan pasukan yang signifikan di wilayah tersebut," kata pejabat itu, menambahkan bahwa pasukan tersebut mampu mendukung berbagai misi tergantung pada perkembangan di lapangan.
Unit Ekspedisi Marinir ke-31, bersama dengan USS Tripoli dan kapal amfibi lainnya yang membawa Marinir, bermarkas di Jepang. Gambar militer menunjukkan kapal-kapal tersebut telah beroperasi di Samudra Pasifik dalam beberapa hari terakhir.
Wall Street Journal melaporkan bahwa Menteri Perang Pete Hegseth mengizinkan penggunaan "elemen dari kelompok siap amfibi dan unit ekspedisi Marinir yang tergabung, yang biasanya terdiri dari beberapa kapal perang dan 5.000 Marinir dan pelaut."
Koresponden keamanan nasional utama Fox News, Jennifer Griffin, mengkonfirmasi pengerahan tersebut, tetapi melaporkan bahwa sekitar 2.500 Marinir merupakan bagian dari penempatan ulang tersebut.
Lokasi mereka saat ini berarti kapal-kapal tersebut berada lebih dari seminggu dari perairan dekat Iran, kata para pejabat.
Pengerahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan negara-negara Teluk, serta secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur pelayaran global utama yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia yang diperdagangkan.
Pada saat yang sama, pesawat tempur AS dan Israel telah melakukan serangan terhadap target militer di dalam Iran, sementara pertempuran meningkat di tempat lain di kawasan tersebut.
Krisis kemanusiaan di Lebanon juga memburuk, dengan hampir 800 orang dilaporkan tewas dan sekitar 850.000 orang mengungsi akibat serangan Israel yang menargetkan militan Hizbullah yang didukung Iran.
Pasar energi global bereaksi terhadap meningkatnya ketidakstabilan. Harga minyak mentah Brent naik menjadi sekitar USD 100 per barel, sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan saat perang dimulai pada 28 Februari.
(Rahman Asmardika)