TASIKMALAYA - Hari-hari Aip dan timnya selalu sibuk saat musim arus balik tiba. Mereka berjaga dari pagi hingga malam di sekitar tanjakan Lingkar Gentong. Sepanjang berjaga, tangan mereka menggenggam sebilah kayu berbentuk cekung.
Tujuan mereka sederhana namun krusial, yakni memastikan kendaraan roda empat hingga bus tidak mundur saat tak kuat menanjak di jalur yang terkenal terjal itu. Tak sedikit kendaraan mogok di tengah maupun di tepi tanjakan, mulai dari kopling terbakar hingga mesin mati, terutama saat kemacetan parah arus balik.
Begitu mobil atau bus mogok, Aip dan timnya sigap mengganjal dua ban belakang kendaraan. Satu orang menahan ban dengan balok kayu, sementara yang lain berjaga di belakang untuk mengantisipasi kendaraan mundur atau tabrakan.
Karena tugasnya itu, mereka dijuluki “tim ganjel”. Berkat aksi mereka, kendaraan yang kepayahan menanjak bisa tertahan sebelum akhirnya didorong menepi ke sisi jalan.
Tak terhitung berapa banyak kendaraan yang telah ia bantu saat arus balik memuncak. Dari pengalaman itu, ia melihat beragam respons pengendara—ada yang tersenyum dan berterima kasih, namun ada pula yang menutup rapat kaca mobil tanpa sepatah kata.