JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 422 gempa bumi susulan terjadi imbas gempa bumi di Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis, 2 April 2026.
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, gempa paling kuat terjadi dengan magnitudo 5,8.
“Hingga pukul 08.00 WIB (3 April 2026), total gempabumi susulan yang tercatat mencapai 422 gempabumi dengan magnitudo terbesar M5.8 dan terkecil M1,7,” kata Rahmat, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, gempa terakhir terjadi pada pukul 08.44 WIB di wilayah Maluku Utara. Gempa tersebut berkekuatan M 5,2 dan tidak berpotensi tsunami.
Rahmat menerangkan, hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,4.
“Episenter gempabumi terletak pada koordinat 1,02° LU ; 126,50° BT, atau tepatnya berlokasi di *laut* pada jarak 100 Km arah Barat Laut Ternate, Maluku Utara pada kedalaman 13 km,” ujar dia.
Dia menyebutkan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ungkapnya.
Dia menambahkan, berdasarkan estimasi pera guncangan, gempa tersebut menimbulkan guncangan di daerah Pulau Batang Dua, Kota Ternate dengan skala intensitas III MMI.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami,” pungkasnya.
Sebagai informasi, BMKG menyebut gempa ini berpotensi tsunami di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara pada Kamis (2/4/2026). BMKG mencatat adanya gelombang tsunami di dua wilayah.
Tsunami di Halmahera Barat setinggi 0,3 meter. Selain itu, BMKG juga mendeteksi adanya tsunami 0,2 meter di Bitung pada pukul 07.15 Wita. Terakhir, BMKG juga telah mencabut peringatan tsunami imbas gempa tersebut.
(Fahmi Firdaus )