Ketua Oposisi Taiwan Kunjungi Beijing, Sinyal Dialog Konstruktif atau Bagian Propaganda?

Rahman Asmardika, Jurnalis
Kamis 09 April 2026 13:31 WIB
Ketua partai oposisi Kuomintang (KMT) Taiwan, Cheng Li-wun melakukan kunjungan langka ke China. (Foto: China Daily)
Share :

JAKARTA – Ketua partai oposisi Kuomintang (KMT) Taiwan, Cheng Li-wun pekan ini melakukan perjalanan langka ke Beijing, China untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping dalam apa yang disebut sebagai “misi perdamaian.” Pertemuan ini berlangsung dalam format yang sangat terstruktur, dengan jabat tangan, pernyataan mengenai “pembangunan damai,” dan ajakan menjaga stabilitas di Selat Taiwan.

Namun, sejumlah analis mengatakan bahwa di balik tampilan dialog tersebut, tujuan strategis Beijing terhadap Taiwan tidak banyak berubah. Partai Komunis Tiongkok (PKT) masih menginginkan kontrol terhadap pulau tersebut. Mereka pesimis, melihat bahwa pertemuan ini bukanlah diplomasi melainkan sandiwara, sebuah misi sia-sia yang berisiko melegitimasi kampanye Beijing untuk mencaplok Taiwan.

Tujuan Akhir Beijing Terhadap Taiwan

Presiden China Xi Jinping telah menjadikan reunifikasi dengan Taiwan sebagai pilar utama visi nasionalnya. Dalam pidato-pidatonya di Kongres Rakyat Nasional dan kongres Partai, ia menyatakan bahwa penggabungan Taiwan ke dalam Republik Rakyat Tiongkok (RRT) adalah bagian dari misi bersejarah dan arah besar politik negara.

Pembangunan militer PKT di sekitar Selat Taiwan, pemaksaan ekonomi, dan isolasi diplomatik terhadap Taipei semuanya memperkuat tujuan tunggal ini. Karena itu, analis menilai bahwa dialog dengan tokoh oposisi seperti Cheng hanya ditoleransi sejauh hal itu memajukan narasi Beijing tentang reunifikasi.

Dilansir European Times, Kamis (9/4/2026), bagi KMT, keterlibatan dengan Beijing dipandang sebagai langkah pragmatis, sebuah upaya untuk mengurangi ketegangan dan menunjukkan relevansi dalam politik Taiwan yang terpolarisasi. Namun, ketimpangan kekuatan antara Beijing dan Taipei membuat ruang gerak KMT terbatas. PKT mendikte syarat keterlibatan, sementara KMT berisiko dianggap sebagai corong pengaruh Beijing. Dalam konteks demokrasi Taiwan, hal ini merusak kredibilitas partai di mata pemilih yang menghargai kedaulatan.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya