Serangan Guncang Fasilitas Energi Arab Saudi, Produksi Minyak Turun Ratusan Ribu Barel

Awaludin, Jurnalis
Jum'at 10 April 2026 10:37 WIB
fasilitas energi strategis di Arab Saudi (foto: dok ist)
Share :

JAKARTA - Aktivitas operasional sejumlah fasilitas energi strategis di Arab Saudi dilaporkan terganggu akibat serangan yang terjadi baru-baru ini. 

Sumber resmi di Kementerian Energi setempat, Jumat (10/4/2026). Serangan menyasar berbagai infrastruktur vital, mulai dari fasilitas produksi, transportasi, penyulingan minyak dan gas, hingga sektor petrokimia dan kelistrikan. Lokasi terdampak mencakup Riyadh, Provinsi Timur, serta Kota Industri Yanbu.

Dalam insiden tersebut, satu personel keamanan industri dari perusahaan energi nasional dilaporkan meninggal dunia. Selain itu, tujuh pekerja lainnya mengalami luka-luka. Serangan juga menyebabkan gangguan signifikan pada sejumlah aktivitas operasional di sektor energi.

Salah satu target serangan adalah stasiun pompa di jalur Pipa Timur-Barat. Akibatnya, kapasitas produksi berkurang sekitar 700.000 barel per hari. Jalur pipa ini diketahui menjadi salah satu rute utama pasokan minyak ke pasar global.

Selain itu, fasilitas produksi Manifa turut terdampak dengan penurunan kapasitas sekitar 300.000 barel per hari. Sementara itu, fasilitas Khurais yang sebelumnya juga diserang mengalami pengurangan produksi sebesar 300.000 barel per hari.

Secara total, gangguan tersebut menyebabkan penurunan kapasitas produksi minyak Arab Saudi mencapai sekitar 600.000 barel per hari.

 

Serangan juga meluas ke sektor hilir, termasuk sejumlah kilang utama seperti SATORP di Jubail, kilang Ras Tanura, SAMREF di Yanbu, dan kilang Riyadh. Kondisi ini berdampak langsung pada ekspor produk olahan energi ke pasar internasional.

Di sisi lain, fasilitas pengolahan di Ju’aymah dilaporkan mengalami kebakaran, yang turut mengganggu ekspor gas minyak cair (LPG) dan gas alam cair (LNG).

Kementerian Energi menyatakan bahwa rangkaian serangan ini tidak hanya mengurangi pasokan energi, tetapi juga memperlambat proses pemulihan operasional. Dampaknya mulai dirasakan secara global, terutama dalam bentuk meningkatnya volatilitas harga minyak.

Menurunnya cadangan operasional dan darurat juga mempersempit kemampuan pasar untuk merespons gangguan pasokan, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi dunia.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya