JAKARTA - Mantan Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf Kalla (JK), geram difitnah melakukan dugaan penistaan agama hingga dilaporkan ke polisi. Padahal, JK merupakan orang yang pernah mendamaikan konflik di Maluku dahulu dari isu agama.
"Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak. Tentang kenapa mereka saling membunuh?" ujar JK pada wartawan, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, ceramahnya di masjid UGM tersebut berbicara tentang perdamaian sebagaimana tema yang diangkat. JK menjelaskan perdamaian adalah akhir dari konflik.
JK lantas mencontohkan berbagai konflik, mulai dari konflik global, Eropa, perang dunia, hingga konflik yang juga ada di Indonesia.
Ia kemudian membeberkan, konflik bisa terjadi karena berbagai hal, seperti ideologi, wilayah, ekonomi, hingga agama. Salah satu konflik agama tersebut terjadi di Maluku puluhan tahun silam.
"Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena wilayah kayak Tim-Tim, ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso," tuturnya.
Di situ, dia memaparkan, ceramahnya tentang isu agama malah dipotong dan difitnah telah menistakan agama, kaitannya dengan istilah syahid yang digunakan dalam ceramahnya itu. Padahal, dia merupakan orang yang pernah mendamaikan konflik dahulu sebagaimana yang terjadi di Maluku.
"Syahid dan martir hampir sama (artinya). Cuma bedanya caranya. Kalau syahid semua sama, mati karena membela agama, martir juga begitu, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja. Tapi karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jamaah tidak tahu," tuturnya.
JK memaparkan, istilah syahid itu digunakan untuk menjelaskan agar agama tidak digunakan sebagai salah satu isu untuk berkonflik sebagaimana yang terjadi di Maluku. Imbas konflik di Maluku, 7 ribu orangi korban meninggal dunia.
Lebih jauh, kata JK, istilah syahid dimaksud disampaikannya berdasarkan pendapat masyarakat yang berkonflik dahulu, tempat yang pernah didatanginya. Selain itu, konteksnya pun hanya pada konflik dahulu di antara kedua agama, bukan dalam konteks agama Islam ataupun Kristen secara keseluruhan.
"Artinya, orang Islam dan orang Kristen di tempat itu, bukan Islam keseluruhan. Islam-Kristen di tempat itu, di Ambon itu, di Poso itu berpendapat mati dan menewaskan orang mati atau menewaskan itu syahid. Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak," paparnya.
Lebih jauh, tambahnya, usai menyinggung istilah syahid tersebut, dia dalam ceramahnya memaparkan tentang cara penyelesaian konflik tersebut dengan mengumpulkan orang-orang yang berkonflik. Bahkan, dia dalam ceramahnya juga menekankan orang yang mengira akan mati syahid tersebut justru diyakini masuk neraka karena telah melanggar ajaran agama.
"Karena itu saya selesaikan ini dengan satu kata, rapat umum, saya undang, kumpulkan di lapangan orang-orang yang berkelahi ini. Bahwa kalian masuk neraka karena tidak ada ajaran Kristen dan ajaran Islam yang mengatakan saling membunuh saudaranya, itu bukan syahid," tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)