Nunung mengatakan, kesimpulan awal itu juga didasarkan pada bentuk kerusakan kabel yang dinilai tidak menyerupai hasil pemotongan.
“Karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi. Dia lebih bersifat atau berbentuk serabut. Jadi kalau itu sabotase, pasti potongan-potongannya lebih rapi," ungkapnya.
Akibat gangguan transmisi tersebut, sistem kelistrikan Sumatera mengalami ketidakstabilan frekuensi dan tegangan yang memicu pembangkit listrik trip secara berantai.
Dampaknya, pemadaman massal terjadi di sejumlah wilayah, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.
Namun, polisi memastikan saat ini sistem kelistrikan di Sumatera sudah pulih sepenuhnya.
“Berdasarkan keterangan resmi dari PT PLN, pasokan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah kembali normal 100 persen serta beroperasi dengan aman dan stabil,” pungkasnya.
(Awaludin)