JAKARTA - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah kehilangan hingga 30 unit drone MQ-9 Reaper sejak awal konflik dengan Iran. Jumlah tersebut hampir mencapai seperlima dari seluruh armada pra-perang Washington dengan nilai kerugian mendekati USD1 miliar (Rp16,2 triliun), menurut laporan Bloomberg. Sebagian besar drone tersebut hancur atau rusak parah akibat tembakan dari pihak Iran.
MQ-9 Reaper merupakan pesawat nirawak yang mampu melakukan misi pengintaian sekaligus serangan. Satu unit drone ini diperkirakan berharga lebih dari USD30 juta (Rp486 miliar). Produsennya, General Atomics, telah menghentikan produksi model ini tahun lalu, meskipun varian lain masih diproduksi untuk pelanggan asing.
Dalam artikelnya pada Kamis (21/5/2026), Bloomberg yang mengutip sumber anonim melaporkan bahwa "Iran telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone MQ-9 Reaper yang dioperasikan oleh pasukan AS sejak perang dimulai" pada akhir Februari lalu. Meskipun banyak drone yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, beberapa unit lainnya hilang di darat akibat serangan rudal serta kecelakaan teknis.
Dampaknya, armada drone tempur Reaper milik AS kini telah berkurang menjadi sekitar 135 unit. Angka ini berada jauh di bawah batas minimum yang telah lama ditetapkan oleh Angkatan Udara AS, yaitu sebanyak 189 unit, menurut Letnan Jenderal David Tabor, Wakil Kepala Staf Pentagon untuk Perencanaan dan Program.
Awal bulan ini, Congressional Research Service—lembaga penelitian nonpartisan dari Perpustakaan Kongres yang bekerja dengan materi sumber terbuka—mengeluarkan laporan berjudul ‘Kerugian Tempur Pesawat AS dalam Operasi Epic Fury’. Dokumen tersebut, dengan mengutip sebuah artikel berita yang tidak disebutkan secara spesifik, memperkirakan bahwa militer AS telah kehilangan 24 unit MQ-9 Reaper, ditambah satu unit MQ-4C.
Jumlah tersebut merupakan bagian dari total 42 pesawat militer AS yang hilang, termasuk di antaranya empat jet tempur F-15E, satu jet tempur F-35A, satu pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker, serta sebuah helikopter.
Dalam persidangan di hadapan subkomite pertahanan Komite Alokasi Anggaran DPR pada Selasa lalu, Pelaksana Tugas (Plt.) Pengawas Keuangan Pentagon, Jules Hurst, mengatakan bahwa biaya operasi militer terhadap Iran telah membengkak dari perkiraan awal sebesar USD25 miliar (Rp405 triliun) menjadi USD29 miliar (Rp469 triliun). Pembengkakan ini terjadi salah satunya dipicu oleh tingginya "biaya perbaikan dan penggantian peralatan yang diperbarui."
(Rahman Asmardika)