JAKARTA - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, dinilai harus menghasilkan pemimpin yang berintegritas dan mampu membawa organisasi menghadapi berbagai tantangan zaman.
Berdasarkan survei Alvara Research Center pada akhir 2025, sekitar 140 juta warga Indonesia mengidentifikasi diri sebagai Nahdliyin. Dengan besarnya skala organisasi tersebut, menurut Hatim, Muktamar bukan hanya ajang memilih figur, melainkan momentum menentukan arah kepemimpinan NU di masa depan.
"Selain itu, pemimpin NU perlu memiliki wawasan nasional dan global, menjaga independensi organisasi dengan tidak menjadi bagian dari partai politik maupun tidak sedang menduduki jabatan politik, serta mampu menjadikan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang tetap kritis sekaligus konstruktif," kata tokoh muda NU, Hatim Gazali dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
1. Mampu menjadi pemersatu di tengah dinamika internal organisasi.
2. Memiliki akar yang kuat di dunia pesantren.
3. Berpengalaman berkhidmat dari tingkat ranting hingga kepengurusan pusat.
4. Memiliki wawasan nasional dan global.
5. Menjaga independensi organisasi dengan tidak menjadi bagian dari partai politik maupun tidak sedang menjabat sebagai pejabat politik.
6. Mampu menjadikan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang kritis dan konstruktif.
7. Berpihak kepada kelompok masyarakat yang lemah.
8. Menjaga tradisi pesantren sekaligus mendorong modernisasi organisasi.
9. Memiliki kapasitas keulamaan, kemampuan organisasi, integritas, serta rekam jejak pengabdian yang teruji.