"Fenomena ini memicu spektrum guncangan yang lebar (felt area masif) hingga radius ratusan kilometer dari episenter, meskipun di sisi lain karakteristik kedalaman ini tidak memicu ancaman gelombang tsunami," ujar Daryono.
Dampak perambatan gelombang geser (S-wave) dan gelombang permukaan memicu Puncak Percepatan Tanah (Peak Ground Acceleration/PGA) yang tinggi di area terdampak. Gaya inersia mendadak ini bekerja langsung pada massa bangunan bertingkat serta struktur pasangan batu (unreinforced masonry), memicu fenomena lantai lemah (soft-story failure) akibat beban lateral yang melampaui kapasitas elemen penopang utama seperti shear wall atau moment frame.
Ketidakmampuan struktur menahan simpangan antarlantai (drift) ini berlanjut pada keruntuhan progresif (progressive collapse) atau keruntuhan total secara bertingkat (pancake collapse), melontarkan reruntuhan material beton dan bata rapuh (brittle material) ke area jalan raya.
Keruntuhan material yang hancur secara mendadak mengompresi udara dan membangkitkan awan debu padat (dust plume) masif yang menyelimuti pemukiman dan persimpangan jalan hingga melumpuhkan jarak pandang. Selain awan debu dan lontaran falling debris, kerentanan kawasan juga diperparah oleh munculnya insiden kebakaran (conflagration) pada bangunan beratap seng akibat rusaknya jalur energi pascaguncangan.
Seluruh rangkaian kerusakan fisik pada lingkungan terbangun ini secara langsung memicu kepanikan warga yang berhamburan ke luar gedung untuk menghindari risiko runtuhan susulan (aftershocks), sekaligus memperumit proses evakuasi mandiri di tengah puing-puing dan kepulan debu pekat.
Daryono pun membeberkan sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks, peristiwa gempa merusak di Kolombia tidak kali ini saja. Sejarah mencatat bahwa Kolombia sudah beberapa kali dilanda gempa merusak, yaitu: