Karena itu, momentum Agustus dapat diisi dengan berbagai kegiatan yang mendorong diskusi publik, kajian mahasiswa, forum kebangsaan, pengabdian kepada masyarakat, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan.
Mahasiswa Jangan Hanya Jadi Pengkritik
Fernando juga mendorong mahasiswa mengambil peran lebih besar sebagai kelompok intelektual sekaligus kekuatan moral masyarakat.
Menurutnya, lingkungan akademik memberikan mahasiswa ruang untuk menguji persoalan melalui data, teori, riset, dan argumentasi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut menjelaskan apa yang salah, tetapi juga mampu menguraikan penyebab persoalan dan menawarkan solusinya.
“Kalau ada kebijakan yang dianggap keliru, sampaikan kritiknya. Tetapi akan lebih kuat apabila kritik tersebut disertai data dan alternatif solusi. Dengan begitu, suara mahasiswa tidak hanya terdengar, tetapi juga diperhitungkan,” katanya.
Fernando menegaskan, ajakan mengisi bulan Agustus dengan kegiatan positif bukan berarti membatasi kebebasan berpendapat.
Aksi demonstrasi, menurutnya, tetap menjadi bagian dari mekanisme demokrasi selama dilakukan secara damai, tertib, dan sesuai dengan ketentuan hukum.