JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 59.647 orang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa susulan yang masih terus terjadi menjadi salah satu alasan masyarakat memilih bertahan di tempat pengungsian.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, mengatakan proses evakuasi dan pendataan warga terdampak masih menghadapi kendala, terutama akses menuju sejumlah desa.
“Selain itu akses ke desa-desa tidak mudah dan perlu waktu untuk menjangkaunya karena memang kondisi yang labil dari kondisi jalan maupun kecilnya jalan tersebut,” ujar Berton dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).
“Saat ini, bahwa pengungsi menjadi salah satu fokus utama kami karena sebagian masyarakat memilih untuk tidak kembali ke rumah terutama karena kondisi bangunan yang rusak dan kekuatiran terhadap gempa susulan,” katanya.
Berton mengatakan, jumlah pengungsi terus diperbarui berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak.
“Tadi berdasarkan pemutakhiran data yang disampaikan oleh diikuti dari BPBD bahwa jadi ini menimbulkan jumlah total pengungsi yang banyak saat ini menurut catatan kami sebanyak 59.647 orang dan yang terbanyak ini ada di Manggarai sebanyak 20 ribu,” ujarnya.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan gempa susulan masih terus terjadi di wilayah NTT. Hingga Rabu 19 Agustus pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 3.002 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2.
“(Update) tanggal 19 Agustus 2026 pukul 14.00, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 3.002 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 1,1 sampai 6,2,” ujar Nelly.
Nelly mengatakan, dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 86 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Sementara itu, 25 gempa susulan memiliki magnitudo lebih dari 5.
Nelly juga memprediksi gempa susulan di NTT masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian warga memilih tetap berada di lokasi pengungsian dan belum kembali ke rumah.
“Perlu diketahui masyarakat gempa susulan ini cukup banyak kenapa karena itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi sehingga mendapatkan keseimbangan yang baru setelah terjadinya gempa utama yang besar,” tuturnya.
(Arief Setyadi )