Kemenkes mencatat gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah ISPA. Pada 27 Agustus 2026 terdapat 4.082 kasus ISPA, dengan total kumulatif mencapai 13.449 kasus yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.
Dia menjelaskan, asap karhutla dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga iritasi mata dan kulit. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.
“Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” lanjutnya.
Selain dampak kesehatan, kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak juga berada pada level mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat nilai ISPU 328 atau kategori berbahaya.
Sementara itu, Kabupaten Tebo di Jambi memiliki nilai ISPU 287, Barito Selatan di Kalimantan Tengah 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali di Sumatera Selatan 255. Seluruh wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.