Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Helikopter Water Bombing Dikerahkan Guna Perkuat Penanganan Karhutla di Teluk Bintuni

Ari Sandita Murti , Jurnalis-Sabtu, 29 Agustus 2026 |19:05 WIB
Helikopter Water Bombing Dikerahkan Guna Perkuat Penanganan Karhutla di Teluk Bintuni
Helikopter Water Bombing (foto: BNPB)
A
A
A

JAKARTA - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan menyebutkan pihaknya memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (28/8). Dukungan dilakukan melalui pengerahan satu unit helikopter water bombing AS350B3e PK-DBM yang secara kumulatif telah melaksanakan 69 kali penyiraman air atau sekitar 69 ribu liter untuk mendukung pemadaman di sekitar kawasan Tangguh LNG.

"Dari hasil asesmen sementara, peristiwa karhutla di Kabupaten Teluk Bintuni terpantau sejak 22 Agustus 2026. Lokasi kebakaran berada di kawasan hutan yang cukup lebat, pepohonan tinggi, serta tutupan vegetasi yang masih rapat," ujarnya melalui keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pemadaman dari udara, sebab air yang dijatuhkan tidak selalu dapat langsung mencapai permukaan tanah maupun material yang terbakar di bawah tutupan vegetasi. Namun, setidaknya air yang disiram menggunakan metode ini dapat membasahi area dengan harapan memutus jalur rambatan api.

Di samping itu, kata dia, pemadaman melalui udara juga dilakukan secara bertahap dan disertai pemantauan berkala untuk mengidentifikasi titik panas maupun bara yang masih tersisa. Pemantauan juga dilakukan menggunakan pesawat nirawak (drone) khusus pemantau panas atau termal untuk membantu menentukan lokasi yang menjadi prioritas penanganan.

"Berdasarkan pemantauan drone termal milik BP Berau Ltd. pada Jumat (28/8), ditemukan 14 titik panas yang tersebar di sekitar area Tangguh LNG dalam empat klaster. Sebanyak empat titik berada di klaster 2, empat titik di klaster 3, dan enam titik di klaster 4, sementara klaster 1 tidak terpantau titik panas pada pemantauan tersebut," katanya.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement