JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia menjelang akhir pekan. Karhutla dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Jawa Timur hingga Sulawesi Tengah.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, karhutla menjadi bencana yang paling banyak dilaporkan pada periode Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026).
"Kejadian baru karhutla dilaporkan di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Jumat (04/09). Kebakaran berdampak pada sekitar 17,81 hektare lahan. Wilayah terdampak meliputi Desa Buding di Kecamatan Kelapa Kampit, Desa Padang di Kecamatan Manggar serta Desa Sukamandi di Kecamatan Damar," ujarnya dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, pada Kamis (3/9/2026) malam. Kebakaran berdampak pada sekitar 8,5 hektare lahan yang tersebar di Desa Air Putih, Kelurahan Sungai Daeng, Desa Air Belo dan Kelurahan Tanjung, Kecamatan Muntok.
Karhutla turut melanda Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kebakaran berdampak pada sekitar 4 hektare lahan di RPH Bungkal BKPH Ponorogo Timur KPH Lawu DS, Desa Gunung Wari, Kecamatan Bungkal. Lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman.
Sementara itu, di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, karhutla terjadi pada Kamis (3/9/2026) di kawasan Hutan Gunung Kendeng. Berdasarkan data terbaru, luas lahan terdampak mencapai sekitar 13 hektare.
Kebakaran meliputi Desa Malotong, Kecamatan Ampana, serta Desa Sukamaju dan Desa Balingara, Kecamatan Ampana Tete. Hingga kini, api masih dalam penanganan dan belum sepenuhnya padam.
"Tim gabungan terus melakukan pemadaman terhadap kebakaran yang terjadi tersebut," tuturnya.
Enam Provinsi Jadi Prioritas
Berton mengungkapkan, BNPB juga memberikan perhatian khusus terhadap enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Di Riau, luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 4 September 2026 tercatat sekitar 18.882,16 hektare. Wilayah terdampak mencakup 10 kabupaten dan dua kota.
"Penanganan dilakukan melalui operasi darat, patroli udara, water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). BNPB saat ini memberikan dukungan berupa satu helikopter patroli udara, satu pesawat patroli udara dan OMC serta lima helikopter water bombing," ungkapnya.
Di Sumatera Selatan, luas lahan terbakar berdasarkan pembaruan 3 September 2026 mencapai 1.926,23 hektare. Pemantauan satelit Terra, Aqua, S-NPP dan NOAA20 mendeteksi 92 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 1.424 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan 40 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.
Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori sedang hingga sangat tidak sehat, dengan jarak pandang kurang dari atau sama dengan tujuh kilometer.
"BNPB juga telah memberikan dukungan berupa kendaraan pemadam, pompa, sepatu dan alat pelindung diri, flexible tank serta selang pemadam," bebernya.
Selanjutnya, Provinsi Jambi menetapkan status Siaga Darurat karhutla sejak 27 April hingga 30 November 2026. Kabupaten Tanjung Jabung Timur juga memiliki status siaga darurat terkait karhutla.
Berdasarkan pemantauan hotspot pada 3 September 2026, Jambi menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas yang perlu diwaspadai. BMKG mencatat terdapat 266 titik panas di wilayah tersebut.
Di Kalimantan Tengah, penanganan karhutla tetap menjadi prioritas dengan status Siaga Darurat yang berlaku di tingkat provinsi hingga 31 Oktober 2026. Sejumlah kabupaten/kota juga memiliki status penanganan karhutla, antara lain Kotawaringin Timur, Kapuas, Sukamara, Barito Timur, Seruyan, Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Lamandau, Barito Utara, Gunung Mas dan Barito Selatan.
Sementara itu, Kalimantan Selatan masih menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla. Pemerintah daerah menetapkan status Siaga Darurat untuk karhutla dan kekeringan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026.
Status penanganan juga berlaku di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.
"Di Provinsi Kalimantan Barat, penanganan karhutla juga terus diperkuat. Status Siaga Darurat karhutla tingkat provinsi berlaku sejak 2 Februari hingga 15 November 2026 dan saat ini terdapat status tanggap darurat karhutla di tingkat provinsi hingga 6 September 2026," katanya.
(Awaludin)