JAKARTA – Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) membuka ruang dialog dengan negara-negara tetangga guna memperkuat komunikasi dan kerja sama pengelolaan perbatasan. Sebanyak 10 negara ikut bagian dalam pembangunan kawasan perbatasan.
Menteri Dalam Negeri M Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI, mengatakan forum tersebut menjadi momentum memperkenalkan fungsi dan peran BNPP kepada negara sahabat.
Menurutnya, badan ini belum sepenuhnya dikenal luas oleh mitra di negara tetangga. Karena itu, ia memaparkan tugas, kewenangan, dan rencana pembangunan kawasan perbatasan ke depan dalam Forum Indonesia Border Partnership Coffee Morning.
“Pada dasarnya, kami mengulas mengenai fungsi dan peran BNPP. Saya memperkenalkan secara mendalam apa sebenarnya BNPP itu, mengingat badan ini kemungkinan belum begitu dikenal luas oleh para mitra kita. Saya memaparkan fungsi, peran agensi ini, serta program-program pembangunan ke depan,” ujar Tito dikutip, Kamis (17/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, peserta membahas upaya menjaga dan mengembangkan hubungan Indonesia dengan negara tetangga, khususnya di kawasan perbatasan.
Tito menjelaskan, kerja sama antarpihak perlu diarahkan pada penyelesaian persoalan secara damai. Selain itu, kerja sama harus memberi manfaat bagi masyarakat kedua negara.
“Kita juga membahas bagaimana mengupayakan agar hubungan antara Indonesia dengan negara tetangga, terutama di wilayah perbatasan, dapat terus dikembangkan bersama-sama demi kemaslahatan masyarakat di kedua negara,” katanya.
Menurutnya, para perwakilan negara sahabat menyambut baik penguatan kemitraan di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan kebudayaan. Respons positif itu menjadi modal membangun hubungan yang lebih erat di kawasan perbatasan.
“Saya sangat berbahagia karena seluruh perwakilan negara sahabat menyambut baik serta bersedia mempererat hubungan kemitraan, baik di bidang perdagangan, kebudayaan, maupun bidang lainnya demi kesejahteraan masyarakat bersama dan kemajuan negara-negara di wilayah perbatasan,” pungkasnya.
Duta Besar Timor-Leste Roberto Sarmento de Oliveira Soares menilai forum tersebut sebagai ruang dialog yang memperkuat hubungan bertetangga. Timor-Leste, kata dia, berkomitmen melanjutkan kerja sama dengan Indonesia, termasuk pengembangan sumber daya manusia.
“Ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa bahwa Bapak Menteri Tito Karnavian telah memfasilitasi dialog yang hangat, terbuka, dan sangat mendalam di antara negara-negara bertetangga,” ujar Roberto.
Penasihat Australian Border Force untuk Indonesia Ian Kelly menyebut, forum ini sebagai kesempatan memperkokoh kerja sama kedua negara. Ia menilai kemitraan Indonesia dan Australia dapat terus dikembangkan, termasuk untuk menjaga stabilitas kawasan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara bagi Indonesia, pengelolaan perbatasan tidak hanya menyangkut garis batas wilayah. Kawasan perbatasan juga menjadi ruang interaksi sosial, ekonomi, dan budaya yang melibatkan warga di kedua sisi. Karena itu, dialog dengan negara tetangga menjadi penting agar pembangunan kawasan berjalan seiring dengan kepentingan hubungan bilateral.
Forum di BNPP RI tersebut dihadiri sejumlah perwakilan diplomatik, yaitu Duta Besar Malaysia Dato' Muzaffar Shah Mustafa, Duta Besar Papua Nugini Simon Namiss, Duta Besar Timor-Leste Roberto Sarmento de Oliveira Soares.
Selanjutnya, Duta Besar Vietnam Ta Van Thong, Duta Besar Singapura Kwok Fook Seng, dan Duta Besar Filipina Christopher B. Montero. Hadir pula Penasihat Australian Border Force untuk Indonesia Ian Kelly serta Konselor Politik Kedutaan Besar India Vikram Vardhan.
(Fahmi Firdaus )