"Namun demikian, aspek keselamatan, kesehatan, kualitas udara, dan penanganan sumber karhutla tetap menjadi perhatian pemerintah. Saya memahami penggunaan kata normal dapat menimbulkan persepsi seolah-olah kondisi masyarakat tidak terdampak, sehingga saya perlu meluruskan kondisi karhutla masih memerlukan penanganan serius dan pemerintah tidak menganggap persoalan ini telah selesai," jelasnya.
Dia pun memohon maaf kepada masyarakat terdampak karhutla jika pilihan kata yang dia gunakan dalam laporan tersebut dinilai menimbulkan kesan pemerintah menganggap kondisi masyarakat di tengah bencana kabut asap sebagai situasi yang biasa saja karena bukan itu maksudnya. Dia memastikan BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan seluruh unsur terkait terus bekerja keras melakukan pemadaman dan penanganan dampak kesehatan serta perlindungan masyarakat atas ancaman karhutla.
"Kami juga terus memperbaiki dan mengintegrasikan data dari seluruh unsur di lapangan agar informasi yang disampaikan kepada Presiden dan kepada masyarakat menggambarkan kondisi secara utuh dan akurat. Keselamatan, kesehatan dan kualitas hidup masyarakat terdampak, selalu menjadi prioritas utama kami," katanya.
(Arief Setyadi )