BENGKULU - Anggota DPRD Kota Bengkulu, Rina Sulastry, menegaskan bahwa pencegahan perundungan dan kekerasan terhadap anak tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Pengawasan ketat juga perlu diperkuat di luar lingkungan sekolah dengan melibatkan peran keluarga, pertemanan, hingga pemerintah daerah agar perilaku kekerasan dapat dideteksi dan dicegah sejak dini.
Rina menegaskan bahwa perundungan atau bullying yang dibiarkan dapat mengganggu perkembangan psikologis anak. Dampaknya tidak hanya dirasakan korban, tetapi juga berisiko memengaruhi perilaku anak yang melakukan perundungan.
“Stop bullying sejak dini. Jangan membiasakan berkata negatif atau menggunakan bahasa yang mengejek teman. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk belajar,” kata legislator dari Partai Perindo itu, Rabu (7/10/2026).
Senin lalu, Rina menyambangi SMP Negeri 5 Pagar Dewa, Kota Bengkulu, untuk memberikan edukasi agar siswa mengenali perundungan, berani menolaknya, serta memahami pentingnya menghargai teman dalam pergaulan.
Rina menilai sekolah tidak mungkin menjadi satu-satunya benteng perlindungan anak. Tindakan perundungan dapat berlangsung di luar pengawasan guru, sehingga keluarga dan lingkungan pertemanan perlu menjadi bagian dari deteksi dini.
Karena itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Bengkulu ini mendorong komunikasi antara sekolah dan keluarga diperkuat. Orang tua perlu mengetahui perubahan perilaku anak maupun persoalan dalam pergaulannya sehingga tanda-tanda perundungan tidak terlewat.
Rina juga meminta Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Satpol PP, kepolisian, serta organisasi perangkat daerah terkait memperkuat edukasi dan pencegahan di lingkungan sekolah.
Ancaman terhadap anak, lanjut Rina, tidak berhenti pada perundungan. Munculnya geng atau kelompok yang mengarah pada kekerasan juga perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi pola pergaulan dan menyeret anak ke tindakan yang lebih berisiko.
“Anak-anak ini adalah cikal bakal pemimpin masa depan. Karena itu, saya berharap pemerintah kota juga antusias dalam membasmi bullying sejak TK dan mencegah gangster berkembang di Kota Bengkulu,” tuturnya.
Langkah konkret disiapkan melalui roadshow ke sejumlah sekolah di Kota Bengkulu. Kegiatan tersebut akan melibatkan sekolah dan instansi terkait untuk memperkuat edukasi mengenai perundungan, kekerasan terhadap anak, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman.
DPRD Kota Bengkulu akan melibatkan Dinas Pendidikan, DP3AP2KB, Satpol PP, kepolisian, dan perangkat daerah terkait dalam kegiatan tersebut. Pelibatan lintas instansi diarahkan agar pencegahan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan pengawasan sesuai kewenangan masing-masing.
“Harapannya tidak ada lagi bullying di sekolah. Anak-anak bisa belajar dengan nyaman, merasa aman berada di lingkungan sekolah, dan saling menghargai satu sama lain,” pungkas Rina.
(Rahman Asmardika)