WASHINGTON - Sebuah laporan yang disusun untuk para legislator Amerika Serikat (AS) menyimpulkan bahwa setidaknya 81 pesawat AS telah hilang sejak Washington dan Israel memulai perang melawan Iran pada akhir Februari.
Menurut dokumen yang dirilis oleh Congressional Research Service (CRS) pada Selasa (6/10/2026), nilai kerugian akibat hancur atau rusaknya pesawat tempur, helikopter, dan drone AS tersebut dapat mencapai USD3,3 miliar atau sekitar Rp59 triliun.
CRS menyatakan bahwa angka-angka yang tercantum dalam dokumen tersebut didasarkan pada laporan berita serta pernyataan dari Komando Pusat AS (US Central Command) dan pejabat Departemen Perang. Sebelumnya, Kongres sempat mengkritik Pentagon karena enggan memberikan daftar lengkap mengenai pesawat yang hilang dalam konflik tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa sejumlah pesawat tempur paling canggih milik AS turut terkena serangan, termasuk satu jet tempur siluman F-35A Lightning II yang rusak akibat tembakan Iran pada 19 Maret, serta 12 jet tempur F-15E Strike Eagle.
Tiga pesawat F-15 ditembak jatuh akibat insiden tembakan kawan sendiri (friendly fire) di wilayah udara Kuwait pada awal Maret, dan satu lagi terkena serangan di atas wilayah Iran pada bulan berikutnya. Menurut CRS, delapan pesawat lainnya mengalami kerusakan ringan saat serangan rudal Teheran terhadap sebuah pangkalan udara di Yordania pada bulan September, namun pesawat-pesawat tersebut telah diperbaiki dan kembali beroperasi.
Dokumen tersebut juga menyebutkan bahwa tujuh pesawat pengisi bahan bakar di udara KC-135 Stratotanker hancur atau mengalami kerusakan. Dua pesawat terlibat dalam insiden pada 14 Maret; satu KC-135 jatuh di Irak dan menewaskan keenam awaknya, sementara satu unit lainnya melakukan pendaratan darurat. Enam pesawat pengisi bahan bakar lainnya terkena dampak serangan Iran terhadap pangkalan AS di Arab Saudi beberapa hari kemudian.