Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini menjadi contoh nyata dari kualitas hubungan kerja sama yang erat antara AFD dan BMKG. Pihaknya optimistis dapat terus melanjutkan dan memperluas dukungan terhadap penguatan ketahanan iklim serta keselamatan masyarakat pesisir di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Robby Irza, mewakili Wakil Gubernur Aceh, menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi maritim ini mengingat masyarakat Aceh memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan wilayah perairan. Nelayan menggantungkan mata pencaharian dari laut, masyarakat pesisir bertumpu pada ekonomi kelautan, dan transportasi laut menjadi sarana vital penghubung antarwilayah kepulauan di Aceh.
Pemerintah Aceh menekankan bahwa keberadaan HF Radar Array bukan sekadar penghasil data teknis atau statistik, melainkan sarana untuk menyelamatkan nyawa dan penghidupan masyarakat. Data real-time mengenai arus dan gelombang langsung menentukan keputusan kapan nelayan harus melaut dan bagaimana kapal menavigasi perjalanan dengan aman.
BMKG menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Kedeputian Bidang Meteorologi, Direktorat Meteorologi Maritim, serta tujuh Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-Aceh yang telah mendukung kelancaran proses perencanaan hingga pengoperasian fasilitas ini.
BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga di sekitar lokasi pemasangan, untuk ikut menjaga dan melindungi fasilitas HF Radar Array Ujong Batee. Partisipasi aktif masyarakat sangat menentukan agar alat pemantau ini dapat beroperasi optimal dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi keselamatan bersama.
(Rahman Asmardika)