"Pada bulan September saja, tingkat paparan melampaui ambang batas tahunan PM2.5 menurut WHO... yakni lebih dari tujuh kali lipat secara nasional, 10 kali lipat di Sumatra, dan mencapai angka yang mengkhawatirkan, yaitu 24 kali lipat di Kalimantan," ungkap laporan tersebut, sebagaimana dilansir TRT.
Lebih dari 330.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut telah tercatat di seluruh negeri.
Dilanda kekeringan yang diperparah oleh fenomena cuaca El Niño, Indonesia selama berbulan-bulan berjuang melawan kebakaran hutan dan lahan. Menurut pemantau deforestasi Nusantara Atlas, kebakaran tersebut telah menghanguskan lebih dari 1,9 juta hektare lahan dalam kurun waktu sembilan bulan hingga September.
Pemerintah belum mengonfirmasi maupun membantah angka tersebut.
Kabut asap yang ditimbulkannya telah menyebabkan tingkat polusi melonjak hingga ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Timor Leste, sehingga mengganggu hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangganya.
Para ahli menyatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan sebagian besar disebabkan oleh praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, yang sering kali dilakukan oleh perusahaan di sektor kehutanan, kelapa sawit, atau pertambangan.
Untuk Pulau Jawa—wilayah dengan populasi terpadat yang juga menjadi lokasi ibu kota Jakarta—laporan CREA menyebutkan bahwa antara 73 hingga 80 persen kematian akibat polusi udara (dengan total 1.530 kematian pada bulan September) disebabkan oleh sumber polusi selain kebakaran, seperti industri, emisi kendaraan, dan pembakaran sampah.
"Angka-angka ini menegaskan kenyataan pahit bahwa sumber polusi udara di luar kebakaran hutan dan lahan sama berbahayanya dengan asap yang berasal dari pembakaran hutan serta lahan gambut," ungkap laporan tersebut.