TULUNGAGUNG - Berunjuk rasa selama dua hari berturut-turut tanpa ada yang menghiraukan, membuat awak Perusahaan Otobus (PO) Sri Lestari naik pitan. Kamis pagi ratusan awak bus yang terdiri dari sopir, kondektur dan kernet dengan didampingi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) kembali mendatangi Gedung DPRD Tulungagung. Para buruh transportasi ini menuntut wakil rakyat untuk turun tangan menuntaskan perselisihan yang terjadi di intenal PO Sri Lestari.
"Kami datang untuk meminta perhatian dewan turut menuntaskan persoalan yang terjadi di PO Sri Lestari. Sebab kami juga bagian dari masyarakat Tulungagung, "ujar Heru Sumarsono korlap aksi saat ditemui di sela-sela unjuk rasa, Kamis (13/12/2007).
Ratusan massa datang sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka tiba di kantor wakil rakyat ini dengan mengendarai sebuah bus dan beberapa roda dua. Awalnya seluruh massa berniat masuk ke dalam gedung DPRD, namun karena dihalangi petugas kepolisian yang membentuk barikade bersenjata lengkap di depan setiap pintu masuk kantor dewan, membuat pendemo mengurungkan niatnya.
Massa akhirnya memutuskan berada di ruas badan Jalan RA Kartini, yakni ruas jalan yang melingkar depan kantor DPRD dan alun-alun kota Tulungagung. Akibatnya jalan kota ini lumpuh untuk sementara waktu.
Dengan iringan musik, orang-orang yang biasanya menghabiskan rutinitas waktu di atas bus itu, melakukan orasi secara bergantian. Bahkan beberapa diantaranya mengecat tubuh sambil membuat gerakan teatrikal.
"Ada lima tuntutan yang kami bawa. Namun intinya, menyangkut hak karyawan yang selama ini tidak diberikan, "ujar Heru.
Setelah beberapa waktu berunjuk rasa, sekira enam orang perwakilan buruh diizinkan menemui wakil Ketua DPRD M Kirom dan beberapa orang anggota komisi A. Sekitar satu jam mereka melakukan pembicaraan tanpa dihadiri perwakilan dari perusahaan PO Sri Letari dan disnakertrans.
Hasilnya, dewan menerima lima tuntutan awak bus. Tuntuan tersebut yakni melakukan reformasi pada manajemen perusahaan yang tidak memihak. Ke dua, menuntut pemenuhan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) yang belum diberikan kepada 33 orang awak bus. Ketiga, meminta perusahaan menambah jumlah armada baru sebanyak 22 unit. "Sebab kurangnya armada yang membuat karyawan tidak bisa bekerja lancar," paparnya.
Ke empat, meminta Ongkowijoyo selaku pemilik (owner)Â perusahaan menemui karyawan. Ke lima, bila semua tuntutan itu tidak bisa dikabulkan, para buruh meminta perusahaan menjatuhkan PHK.
"Kita cukup lega karena lima tuntutan kami diterima dewan dan dewan berjanji akan memperjuangkan, "ujar Supriyadi perwakilan dari SPSI.
Sekedar diketahui, jumlah armada bus PO Sri Lestari trayek Tulungagung-Surabaya saat ini 18 armada. Dari jumlah ini yang beroperasi hanya lima armada sedangkan lainya rusak.
Sementara jumlah awak bus yang ada sebanyak 168 orang. Akibatnya banyak awak bus yang menganggur daripada harus bekerja. Rata-rata mereka bekerja sebulan maksimal dua kali.Para pekerja sudah berkali-kali berunjuk rasa, namun tidak pernah ada tanggapan.
Wakil Ketua DPRD Tulungagung M Kirom mengatakan, pihaknya akan berupaya memperjuangkan hak buruh transportasi ini. Caranya dengan mendatangkan pemilik perusahaan.
"Kita akan datangkan pemilik perusahaan (Ongkowijoyo). Meksi informasinya masih berada di Cina, namun kita akan berusaha mendatangkan untuk membicarakan ini, "ujarnya.
Terkait tidak dilibatkanya Disnakertrans, menurut Kirom hal itu memang belum perlu. Sebab penyelesaian masih bisa dilakukan antara buruh, pemilik modal, dan dewan.
(Kemas Irawan Nurrachman)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari