Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Lumpur Lapindo Sebaiknya Dibuang ke Rawa

Amir Tejo , Jurnalis-Rabu, 19 Desember 2007 |18:27 WIB
Lumpur Lapindo Sebaiknya Dibuang ke Rawa
A
A
A

SURABAYA - Untuk menangani semburan lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo, pakar dari ITS Prof Noor Endah mengusulkan metode pembuangan Lumpur ke daerah wetland (rawa dan tambak) di sebelah timur Porong.

Metode ini dirasa paling menguntungkan. Endah menyatakan, metode pengaliran lumpur kea era wetland sudah dipakai oleh Jepang.

"Mereka menggunakan lumpur untuk reklamasi pantai," ujarnya dalam Simposium Penanganan Semburan Lumpur Sidoarjo, di rektorat ITS, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (19/12/2007).

Menurutnya, dulu Jepang menggunakan pasir pantai untuk reklamasi. Namun, hal ini merusak ekosistem. Sehingga, hanya lumpur di kedalaman laut tertentulah yang boleh digunakan untuk reklamasi.

"Tapi lumpur itu kan cair, sehingga harus dicampur dengan semen, sehingga bisa menjadi tanah yang solid," tambahnya.

Metode ini menurutnya dapat mengalirkan 100 ribu meter kubik per hari. "Kalau dilihat kuotanya, sesuai untuk lumpur Porong," tambahnya.

Lumpur ini dapat dengan mudah dialirkan, karena lumpur dicairkan dengan udara, sehingga campuran udara yang ada di lumpur dapat memmperkecil friksi. "Kalau diencerkan dengan air, nanti bisa kering. Tapi lumpur yang diencerkan dengan udara bertekanan tinggi dapat dengan mudah dialirkan dengan pipa plastik biasa," tambahnya.

Endah memastikan hal ini dapat diterapkan di Porong. Menurutnya, lumpur bisa dialirkan ke daerah wetland.

Kata Endah, solusi ini reltif lebih dapat diterima oleh para pemilik tambak dan rawa. Sebab, dengan menjadi daerah reklamasi, mereka mempunyai nilai lebih terhadap lahan mereka. "Sekarang kan tambaknya mereka malah terkena lumpur, kalau direklamasi dan jadi daratan kan punya nilai lebih. Tergantung pemerintah setempat nanti peruntukkan lahan reklamasi tersebut," terangnya.

Persoalannya adalah biaya untuk melakukan metode ini sangat tinggi. Jepang mematok biaya 400 yen per meter kubik, atau sekitar Rp32 ribu per meter kubik. "Kalau setahun menyerap dana Rp1,168 triliun," tambahnya.

Selain itu, Jepang mensyaratkan kerjasama G to G, atau antar pemerintah. Atau lumpur Porong dinyatakan sebagai bencana nasional, sehingga pemerintah Jepang dapat memberikan bantuan berupa metode tersebut. "Ini yang masih jadi kendala jika kita menggunakan metode ini," lanjutnya.

Untuk menjembatani hal tersebut, tim Lumpur Porong ITS yang terdiri dari I Made Arya Djoni, Ali Atway, dan Djaja Laksana menciptakan alat untuk mempermudah pengaliran lumpur Porong tersebut ke daerah yang diinginkan.

"Prinsipnya kita akan menggunakan tenaga dorong dari lumpur itu sendiri untuk mengalirkannya ke tempat tertentu dengan metode EBS (energy balance system)," sambungnya.

Metode ini memungkinkan lumpur terdorong dengan tenaganya sendiri. Hanya saja, kekuatan dorong lumpur ini hanya mencapai jarak 2000 meter dari pusat semburan. Sementara, lahan untuk pembuangan berjarak lebih dari 4 kilometer dari pusat semburan. "Karena itu kita ciptakan star pump," tandasnya.

Prinsip kerja pompa ini memang berbeda dengan pompa biasanya. Pompa ini tidak akan macet jika menyedot lumpur yang bercampur batu dan kerikil.

(Nurfajri Budi Nugroho)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement