JAKARTA - Amrozi bin Nurhasyim ketika muda dikenal dengan pemuda urakan dengan berambut gondrong, suka nongkrong di warung kopi, dan tidak pernah menamatkan pendidikan aliyahnya. Namun, sikap urakan tersebut berubah setelah Amrozi merantau ke Malaysia sejak tahun 1993 dan pulang ke Indonesia tahun 1999 lalu.
Saat itu Amrozi membawa nuansa lain. Dia tak lagi terlihat urakan. Penampilannya lebih alim walau tetap dengan rambut gondrongnya. Kedatangannya ke Lamongan menjadi perhatian warga. Amrozi kini lebih pendiam. Dia lebih suka berada di rumah dan membaca buku-buku agama. Walau demikian, perannya dalam menularkan ilmu agama di dalam pesantren Al Islam yang didirikan kakak tertuanya tidaklah signifikan.
Khozin meminta bantuan Ustad Zakaria, alumni Pondok Pesantren Islam Ngruki Solo. Tak satu pun latar belakang keluarga besar ini yang mendapat pendidikan pesantren. Namun Zakaria mampu memberikan bimbingan bagaimana mengelola pondok pesantren. Tidak heran, sistem pendidikan model Ngruki diterapkan di Al-Islam, Tenggulun.
Begitu pun kuliah umum bagi santri diberikan oleh Ustad Abu Bakar Ba'asyir, yang sebagaimana lazimnya masyarakat pedesaan, lantas menjadi sumber panutan dan rujukan bagi para santri dan keluarga santri di Tenggulun. Amrozi, adik Khozin, yang dikenal nakal dan juga bukan lulusan pesantren ini besar di tengah-tengah situasi itu.
Untuk menafkahi istri ketiganya yang dinikahi sepulangnya dari malaysia, Choiriyana Khususiyati, dia bekerja di bengkel sepeda motor yang berada di sebelah kiri rumah induk.
Amrozi memiliki kemahiran mereparasi alat komunikasi. Meskipun tinggal di desa yang cukup terpencil di pesisir pantai utara Pulau Jawa, dia memakai selueler. Amrozi juga punya alat komunikasi berupa alat penyeranta (pager). Pesawatnya berwarna putih agak kusam dengan merek Motorola.
Pihak operator pagernya adalah Nusapage, dengan nomor operator 13055, di Jalan Jemursari, Surabaya. Nomor pesawat pager Amrozi itu adalah 609358. Tapi, pesawat itu sudah diblokir sejak 31 Agustus 2002. Dengan penyeranta itu, Am panggilan akrab Amrozi bisa mempermudah aktivitasnya sehari-hari. Ketika sedang nongkrong bersama teman-temannya, atau sedang berjalan-jalan, pager itu sering berbunyi.
Sebelum ia tertangkap karena kasus pengeboman di Bali, Am punya bisnis jual-beli telepon seluler. Ia mengajak Ustad Zakaria, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islam, Solokuro, untuk menanam saham. Tertarik ajakan Am, ustad kemudian memberinya uang Rp 10 Juta.
Bisnis itu berjalan lancar. Namun Am tak sempat menikmati bisnis yang kabarnya menguntungkan tersebut. Polisi menangkap Amrozi sebagai tersangka peledakan bom di Legian, Kuta, Bali. Peristiwa itu menjadi berita besar, tak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri.
(Syukri Rahmatullah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.