Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kuto Gawang, Keraton yang Hilang

Arpan Rachman , Jurnalis-Selasa, 22 September 2009 |07:19 WIB
Kuto Gawang, Keraton yang Hilang
Sketsa kuno Joan van der Laen yang menggambarkan Keraton Kuto Gawang. (Foto:palembangdalamsketsa.blogspot.com)
A
A
A

PALEMBANG - Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang menyimpan banyak peninggalan sejarah. Salah satunya, Keraton Kuto Gawang.

"Pada masa prakesultanan Palembang Darussalam, keraton sebagai pusat pemerintahan dibangun di kawasan sekitar Kelurahan Sungaibuah dan Kelurahan 1 Ilir, di tempat yang sekarang merupakan kompleks PT Pupuk Sriwijaya (Pusri)," ujar Aryandini Novita, arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang, saat ditemui okezone.

Pusat pemerintahan tersebut dikenal dengan nama Keraton Kuto Gawang. Diketahui pula, berdasarkan hasil prapenelitian Balar Palembang, batas-batas Kota Palembang masa prakesultanan.

Batas berupa sungai-sungai yang melingkari wilayah tersebut meliputi batas utara-selatan-timur-baratnya adalah Sungai Musi-Sungai Lunjuk-Sungai Buah-Sungai Taligawe. Selain itu, di kawasan tengah Kota Palembang pada masa awal Kesultanan mengalir Sungai Rengas.

Dibubuhkan Novi, "Selain dikelilingi sungai, wilayah kota masa itu juga dilindungi pagar keliling. Meskipun sudah tidak tampak lagi, berdasarkan informasi penduduk yang menggunakan kembali sisa pagar keliling, diketahui batas pagar keliling sebelah utara merupakan lokasi yang sekarang menjadi kawasan-batas-hijau (greenbarier) Pusri".
 
"Sampai saat ini penduduk asli di wilayah tersebut masih disebut dengan istilah 'wong jero pager'. Sebutan itu dapat digunakan sebagai asumsi bahwa pada masa lalu kawasan itu dibatasi oleh pagar keliling," lanjut Novi.

Berdasarkan catatan sejarah Keraton Kuto Gawang yang bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi dan kayu unglen yang tebalnya 30x30 cm setiap batangnya. Kota berpagar benteng itu mempunyai ukuran 290 Rijnlandsche roede (1.093 meter), baik panjang maupun lebarnya. Tinggi dinding yang mengitarinya 24 kaki (7,25 meter).

Kota berbenteng seperti dilukiskan pada 1659 (sketsa Joan van der Laen), menghadap ke arah Sungai Musi (selatan) dengan pintu masuknya melalui Sungai Rengas. Sebelah timurnya berbatasan Sungai Taligawe, dan mata angin baratnya berbatasan Sungai Buah.

Novi menerangkan, bahwa dalam gambar sketsa van der Laen tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas, dan Sungai Buah terus ke utara dan satu sama lain aliran konturnya tidak bersambung. Batas kota sisi utara berupa pagar dari kayu besi dan kayu unglen. Di tengah benteng keraton tampak berdiri megah bangunan keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas.

Benteng keraton mempunyai tiga buah baluarti (bastion) yang dibuat dari konstruksi batu. Orang-orang asing ditempatkan atau bermukim di seberang sungai sisi selatan Musi, sebelah barat muara Sungai Komering..

Kuto Gawang yang merupakan sebuah kota yang dikelilingi pagar kota yang kokoh digambarkan tidak berdiri sendiri. Kota mempunyai pertahanan yang berlapis dengan kubu-kubu yang ada di Pulau Kemaro, Plaju, Baguskuning (Sungai Gerong) di samping cerucuk yang memagari dipasang memotong Sungai Musi antara Pulau Kemaro dan Plaju.

Jaringan sungai dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk sistem pertahanan kota. Di mana perlu telah dibuat juga parit keliling untuk pertahanan kota atau keraton.

Kekuatan Kuto Gawang ditopang oleh suatu sistem perbentengan dan kubu yang ada di bagian hilir Musi, yaitu benteng Bamagangan di muara Sungai Komering. Benteng kedua adalah Benteng Martapura, dan Benteng Pulau Kemaro, yang letaknya dekat dengan Kuto Gawang.

Ketiga benteng tersebut letaknya di depan Kuto Gawang. Penempatannya terkesan berdasarkan pemikiran bahwa musuh yang akan datang menyerang melalui Sungai Musi dan Sungai Komering. Anehnya, seperti yang dilukiskan dalam sketsa 1659, sisi utara Kuto Gawang yang berpagar kayu unglen atau kayu besi tidak mempunyai pertahanan parit. Tiga batang sungai yang mengalir dari arah utara sama sekali tidak berhubungan.

"Hasil penelitian arkeologi dan ditunjang dengan data sejarah menunjukkan bahwa Kota Palembang pada masa prakesultanan memiliki ciri-ciri umum kota Islam yang dikemukakan oleh Hourani. Hal itu juga sesuai dengan analisis peta kuno yang selama ini telah dilakukan. Sedikitnya temuan arkeologi pada saat ekskavasi, baik secara kuantitatif dan kualitatif, menyulitkan untuk menentukan tata letak unsur-unsur pemukiman Kota Palembang pada masa prakesultanan, meskipun demikian setidaknya terlihat bahwa di wilayah Sungaibuah dan 1 Ilir tersebut merupakan situs permukiman," jelas Novi dengan panjang lebar.

Secara terpisah, budayawan Djohan Hanafiah menyebutkan bahwa Palembang pada 1659 digempur agresi militer Vereenigde Oost indische Compagnie (VOC/perserikatan perusahaan Hindia Timur), sehingga kota terbakar habis.

"Sedangkan makam Raja-raja Palembang pertama terletak di Sabokingking, belakang kompleks Pusri," ujar Djohan, yang menulis buku Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan.

Ujarannya itu menyiratkan bahwa para korban yang berguguran saat kota digempur VOC pada 1659, kemungkinan besar juga dimakamkan di sana.

Terakhir, sejauh ini belum diketahui pengganti jurukunci makam Sabokingking, perawat sejarah sisa Keraton Kuto Gawang, setelah jurukunci terakhirnya Kemas Madinah Yahya wafat pada 13 Juli silam.

Konon, sebuah catatan kuno tertulis, bahwa Raja Palembang setiap hari melemparkan emas ke dalam kolam di Keraton Kuto Gawang. Catatan itu seolah terpenggal menjadi bagian sejarah yang hilang.

(Hariyanto Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement