KUTA - Pria penjaja seks yang terekam dalam film dokumenter Cowboys in Paradise pada umumnya adalah warga pendatang. Mereka berasal dari Banyuwangi, Surabaya, dan beberapa daerah lain.
Di daerah asalnya para gigolo itu sama sekali tidak mempunyai pekerjaan dan akhirnya merantau ke Bali mencari kehidupan yang lebih layak. “Mereka ke Bali juga mengasah Bahasa Inggrisnya,” ujar salah satu Gigolo, Andrew (bukan nama sebenarnya) kepada okezone di Jakarta, Rabu (28/4/2010).
Selain dari wilayah Jawa Timur, penduduk lokal pun banyak yang terpincut menjadi gigolo. Biasanya setelah mendapatkan uang mereka membuat biro perjalanan khusus buat turis atau buka usaha lainnya.
Kehadiran para gigolo ini, menurut Andrew, menjadi daya tarik tersendiri bagi Pulau Dewata. Sehingga para gigolo pun menjadikan kegiatannya sebagai pekerjaan tetap yang menjanjikan. Selain di Kuta mereka juga kerap nongkrong di Jalan Poppies. “Mereka juga membawa tamunya di sana selama beberapa hari,” tandasnya.
Selain jago bermain papan selancar dan memiliki kulit yang coklat, wisatawan mancanegara juga sangat menyukai bentuk alat vital yang besar. “Biasanya mereka mau ukuran yang besar,” ujarnya.
Selain warga negara Jepang, wisatawan yang gemar making love dengan Gigolo Kuta berasal dari Australia, Jerman, dan Italia. “Kalau Amerika sedikit karena jumlah wisatawannya tidak terlalu banyak dibandingkan yang lainnya,” ujar Andrew.
Dia menambahkan, aktivitas mereka hanya nongkrong dan bermain surfing di Pantai Kuta. Gigolo-gigolo tersebut juga berharap dapat berkenalan dengan wisatawan di Kuta. Pada umumnya mereka berharap jadi istri simpanan atau berpacaran dengan turis selama beberapa bulan.
Menjadi istri simpanan wisatawan mancanegara merupakan impian semua gigolo yang ada di Bali. Karena dengan menjadi istri simpanan mereka akan mendapatkan uang yang banyak.
Andrew menambahkan, uang tersebut digunakan untuk berfoya-foya dan membeli motor gede. Biasanya paling sedikit penghasilan gigolo di Bali setiap bulannya Rp4-5 juta rupiah.
Dia mengatakan, mereka tidak memasang tarif karena wisatawan enggan untuk membayar dengan alasan mereka bukan untuk mencari pemuas nafsu sementara. Terlalu naif buat turis untuk membayar jasa gigolo. “Mereka biasanya membayar setelah terpuaskan nafsunya,” tegasnya.
Selain jasa Gigolo di sekitar Jalan Legian banyak juga ditemukan panti pijat yang dapat melayani jasa pijat plus. Umumnya panti pijat tersebut tidak memperbolehkan karyawannya. “Namun itukan urusan pribadi dengan tamunya,” ujarnya.
Andrew mengatakan, pelayanan yang diberikan seperti mandi kucing, blow job (oral seks) dan lainnya. Bukan hanya Gigolo saja yang banyak ditemui di Kuta, pekerja seks komersial pun juga menjamur. Jumlah mereka kalah dengan Gigolo, karena takut dirazia oleh pecalang. Di Kuta juga dapat ditemukan gay atau homo namun sangat sedikit. Biasanya kalau Gay dapat dilihat dengan penampilannya yang gemulai dan berbadan besar.
“Gay di sini berbeda jauh dengan yang ada di Lapangan Banteng. Kalau di Lapangan Banteng biasanya dia mangkal di jalanan, kalau di sini bisa dijumpai di cafe sekitar Kuta,” ujarnya.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.