Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Presiden NII Bantah Rekrut Kader dengan Hipnotis

Fani Ferdiansyah , Jurnalis-Jum'at, 29 April 2011 |04:31 WIB
Presiden NII Bantah Rekrut Kader dengan Hipnotis
Sensen Komara (Foto: Fani Ferdiansyah)
A
A
A

GARUT - Presiden Negara Islam Indonesia (NII), Drs Sensen Komara, membantah keras NII melakukan perekrutan kader dengan cara hipnotis atau cuci otak.

Warga Kampung Babakan Cipari, Desa Sukakarya, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, ini juga menegaskan NII tidak pernah menjadikan penyerahan sejumlah uang sebagai prasyarat untuk masuk keanggotaan.

“Itu semua fitnah. Tidak ada program NII untuk menghipnotis orang untuk berubah menjadi tidak baik,” katanya saat ditemui di kediamannya, Kamis (28/4/2011).

Sensen yang mengklaim diri sebagai panglima tertinggi NII pun menolak bila NII dikait-kaitkan dengan kasus penculikan sejumlah mahasiswa di Jawa Timur dan beberapa daerah lain. Selama ini, terang dia, NII hanya memiliki misi untuk menciptakan masyarakat madani yang berdasarkan atas hukum Islam.  
“Polisi di dalam berita juga kan sudah bilang, bahwa pencucian otak berkedok NII itu sebagai tindak penipuan murni. Dahulu sekali memang ada yang namanya pemasukan dari masyarakat. Tapi sekarang sudah tidak ada. Orang saya imam NII-nya sekarang,” tambahnya.
 
Senada dengan Sensen, Lukman Hakim, Menteri Perencanaan Pembangunan NII, mengatakan, selama ini perekrutan NII dilakukan tanpa ada paksaan. Adapun penerangan yang diberikan terhadap calon anggota NII, kata dia, hanyalah sebatas penerangan belaka.
 
“Kami tidak menculik seseorang untuk menjadikannya sebagai anggota NII. Mungkin, yang disebut-sebut sebagai doktrin atau cuci otak itu maksudnya diberikan pemahaman. Bahwa memang, NII selama selalu mengedepankan pemahaman Islam dan sejarah NII di masa lalu,” ujarnya.
 
Lukman yang telah menjabat sebagai menteri di NII selama delapan tahun itu memaparkan, berdasarkan sejarah Perundingan Renville di tahun 1948 silam, NII telah menunjukan niat untuk membantu menyelamatkan negara RI dengan mengehentikan aktivitas tembak menembak. Hal ini, lanjut dia, sudah cukup untuk membuktikan diri bahwa NII tidak pernah memiliki niat untuk bermusuhan dan berbuat kekacauan.
 
“Kami juga selalu membahas soal akhlak. Karena tujuan lain NII adalah menciptakan masyarakat yang madrotillah sesuai ajaran rasul dalam bermasyarakat. Jadi, NII sebenarnya hanya menyerahkan kembali kepada para calon anggota apakah mereka ingin bergabung atau tidak. Siapa pun bebas memilih mana yang benar dan mana yang tidak,” ungkapnya.
 
Sementara itu, salah seorang warga Kampung Babakan Cipari lainnya, Iwan sopian, mengaku dirinya masuk menjadi anggota NII tidak berdasarkan paksaan. Ia menuturkan, dirinya dengan sukarela menjadi anggota karena akhlaknya selalu dibina di NII.
 
“Saya masuk jadi warga NII tahun 1999. Tidak ada doktrin. Tidak ada paksaan. Saya malah selalu merasa senang. Di sini selalu membina akhlak untuk peribadinya masing-masing supaya berbudi tinggi. Sebagai anggota, saya tidak pernah menerima perintah dari imam saya, Sensen Komara, untuk keluar dari Republik Indonesia. Yang ada justru untuk menyelamatkan negara,” tukasnya.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement