Share

Pahlawan tanpa pusara

Kamis 10 November 2011 16:24 WIB
https: img.okezone.com content 2011 11 10 435 527657 e5dQb3qWtv.JPG Ilustrasi-pahlawan tak dikenal/Ist

Sindonews.com - Hingga 66 tahun usia kemerdekaan, Indonesia telah memiliki total 164 pahlawan nasional, termasuk tujuh nama baru. Yaitu Sarmidi, Kasimo, Syafruddin Prawiranegara, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Paku Buwono X, I Gusti Ketut Pudja, dan Idham Chalid. Sebanyak 32 pahlawan di antaranya dimakamkan di TMP Kalibata.

Sementara lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan lainnya di seluruh Indonesia. Tapi ada juga yang dimakamkan di luar kompleks Taman Makam Pahlawan. Memang, beberapa dari mereka telah memperoleh haknya, yaitu jasadnya mendapat kehormatan untuk disemayamkan di Taman Makam Pahlawan.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Namun beberapa dari mereka bahkan harus dimakamkan di negara asing. Seperti Tuanku Tambusai di Malaysia, atau Syekh Jusuf Tajul Khalwati di Cape Town, Afrika Selatan. Bahkan, ada di antara para pahlawan tersebut yang hingga kini pusaranya tidak diketahui. Berikut profil singkat pahlawan nasional.

1. Tuanku Tambusai

Tuanku Tambusai, lahir di Tambusai, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784. Wafat di Negeri Sembilan, Malaysia, 12 November 1882 pada umur 98 tahun, adalah salah seorang tokoh Paderi terkemuka.

Tambusai yang memiliki nama kecil Muhammad Saleh, merupakan anak dari pasangan Ibrahim dan Munah. Ayahnya seorang ulama besar di Tambusai. Sewaktu kecil Muhammad Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara.

Perjuangannya melawan Kolonial Hindia Belanda dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Dia menjadi pemimpin Paderi pada tahun 1832, setelah Belanda mengangkat Tuanku Mudo menjadi regent Bonjol.

Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama.

2. Syech Yusuf Tajul Khalwati

Meskipun Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, namun dirinya banyak menghabiskan waktu untuk berjuang di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Perkenalan Syekh Yusuf dengan Sultan Banten terjadi lebih kurang pada tahun 1644 sewaktu akan menunaikan ibadah Haji. Sebelum ke Mekkah, Syekh Yusuf mampir ke Banten dan tinggal selama 5 tahun di kediaman Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Banten sedang bermusuhan dengan Belanda.

Sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1664, Syekh Yusuf mampir kembali ke Banten dan membantu perjuangan Sultan Banten melawan VOC. Bahkan ia kemudian dijadikan menantu dan penasihat kesultanan. Ketika Belanda dan Sultan Haji berhasil menguasai kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara di Batavia. Sedangkan Syekh Yusuf bersama pengikutnya dibuang ke Sri Lanka pada tahun 1684.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berusaha berjuang dengan cara mengirimkan surat-surat kepada penguasa-penguasa di Nusantara untuk menentang Belanda. Di samping itu ia juga menyebarkan agama Islam.

Perbuatan Syekh Yusuf tersebut membuat Belanda berang dan kembali membuang Syekh Yusuf ke Afrika Selatan. Selama lima tahun di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, penduduk di Cape Town hingga kini menganggap Syekh Yusuf sebagai orang pertama yang menyiarkan agama Islam Di Afrika Selatan. SK Presiden RI No. 071/TK/1995 mengukuhkan Syekh Yusuf Tajul Khalwati sebagai Pahlawan Naional.

3. Supriadi

Supriyadi adalah pahlawan nasional, tokoh pejuang kemerdekaan dan simbol perlawanan terhadap pendudukan Jepang. Namanya populer sebagai tokoh PETA yang memberontak terhadap pendudukan Jepang di Blitar Jawa Timur pada Bulan Februari 1945.

Beliau lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 dan meninggal tahun 1945. Setelah tamat ELS (setingkat Sekolah Dasar), Suprijadi melanjutkan pendidikan ke MULO (setingkat Sekolah Pertama), kemudian memasuki Sekolah Pamong Praja di Magelang. Pada masa pendudukan Jepang, Suprijadi memasuki Sekolah Menengah Tinggi. Sesudahnya, ia mengikuti Latihan Pemuda (Seinendoyo) di Tangerang. Pada bulan Oktober 1943, Jepang membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA).

PETA dibentuk dengan tujuan untuk memberikan latihan kemiliteran kepada pemuda-pemuda Indonesia. Mereka selanjutnya akan dipakai untuk membantu Jepang menahan serbuan sekutu. Tetapi, tokoh-tokoh pergerakan nasional berhasil menanamkan perasaan kebangsaan di kalangan pemuda-pemuda tersebut.

Suprijadi mengikuti pendidikan PETA dan sesudah itu diangkat menjadi Shodanco di Blitar. Ia sering bertugas mengawasi para romusha membuat benteng-benteng pertahanan di pantai selatan.Suprijadi menyaksikan bagaimana sengsaranya para romusha. Makanan kurang dan kesehatan tidak terjamin. Banyak di antaranya yang meninggal dunia karena sakit. Suprijadi tidak tahan melihat keadaan itu.

Dengan beberapa orang temanya,ia merencanakan pemberontakan melawan Jepang. Walaupun menyadari bahwa waktu itu Jepang sangat kuat, namun ia tetap berniat untuk melakukan perlawanan. Pemberontakan dilancarkan dinihari tanggal 14 februari 1945, di Daidan Blitar. Jepang sangat terkejut mendengar perlawanan tersebut. Mereka mengerahkan kekuatan yang besar untuk menangkap anggota-anggota pasukan Peta Blitar.

Selain itu, dilakukan pula siasat membujuk beberapa tokoh pemberontak. Karena kurang pengalaman dan kekuatan tidak seimbang pemberontakan itu ditindas Jepang. Tokoh-tokoh pemberontak yang tertangkap, diadili dalam mahkamah militer Jepang. Ada yang dihukum mati dan ada pula yang dipenjara. Suprijadi tidak ikut diadili, bahkan namanya tidak disebutkan dalam sidang pengadilan. Rupanya ia sudah dibunuh Jepang pada waktu tertangkap. Sampai saat ini tidak diketahui di mana makam Suprijadi.

4. Kapitan Pattimura

Pattimura, memiliki nama asli Thomas Matulessy (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun). Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi.

Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra Raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan.

Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

5. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy Kapitan Pattimura dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.

Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, gadis molek ini terkenal sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya.

Sejak awal perjuangan, ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua.

Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Ia bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran, sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Di dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw – Ullath jasirah Tenggara Pulau Saparua yang nampak betapa hebat Srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan penghianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman.

Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha Christina berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, namun ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, tetapi akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Srikandi yang berjiwa ksatria ini menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer, jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818. Menghargai jasa dan pengorbanan, Martha Christina dikukuhkan sebagai “Pahlawan kemerdekaan nasional” oleh Pemerintah Republik Indonesia.

6. R Otto Iskandar Dinata

Lahir pada tanggal 31 Maret 1897 di Bandung. Setelah menamatkan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bandung, ia melanjutkan pelajarannya di HKS (Hoogere Kweek School atau Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Setelah tamat, ia bertugas sebagai guru di Banjarnegara dan kemudian dipindahkan ke Pekalongan.

Di sana ia memasuki Budi Utomo dan kemudian diangkat sebagai wakil Budi Utomo dalam Dewan Kota. Dia kemudian bertengkar dengan Residen Pekalongan. Ia tetap bertahan dengan kebenarannya, sehingga residen itu dipindahkan ke tempat lain. Nama Otto semakin populer, sehingga Pemerintah Belanda menjadi cemas. Maka pada tahun 1928 ia pun dipindahkan ke Jakarta. Sebelum dipindahkan ia masih sempat memprakarsai berdirinya "Sekolah Kartini".

Di Jakarta ia mengajar di sekolah Muhammadiyah, di samping itu ia menjadi anggota Paguyuban Pasundan. Setelah ia menjadi ketua Pengurus Besar, paguyuban tersebut mendapat kemajuan pesat. Paguyuban Pasundan mendirikan sekolah-sekolah, bank dan sebagainya untuk kepentingan rakyat banyak.

Kemudian Otto diangkat sebagai anggota Volksraad mewakili Paguyuban Pasundan. Karena keberaniannya mengecam Pemerintah Belanda di Volksraad, maka pada tahun 1935, Otto ditarik dari dewan tersebut. Ia sering dijuluki "Si Jalak Harupat" atau "Burung jalak yang berani". Paguyuban Pasundan yang dipimpinnya, mula-mula bergabung dengan Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dan pada tahun 1939 ikut bergabung ke dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Pada zaman pendudukan Jepang partai-partai dibubarkan, termasuk Paguyuban Pasundan, Otto kemudian giat dalam dunia kewartawanan dengan menerbitkan surat kabar Warta Harian Cahaya. Di samping anggota Pusat Tenaga Rakyat (Putera), dia pun diangkat pula jadi anggota Jawa Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat Jawa), kemudian anggota Cuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat).

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ia pun duduk dalam Panitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk turut menyusun Undang-Undang Dasar 1945. Ia ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menjadi Menteri Negara dalam Kabinet R.I.

Otto kemudian terbunuh dalam penculikan yang terjadi bulan Oktober 1945. Beliau meninggal dunia di Mauk (Banten) pada tanggal 20 Desember 1945. Jenazahnya kemudian dipindahkan, dan dikabarkan dimakamkan di Bandung pada tahun 1947. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 Nopember 1973

7. Komodor Jos Sudarso

Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Jos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 4°49' LS dan 135°02' BT.

Menjelang pukul 21:00 WIT, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, di mana berarti kapal itu sedang berhenti. Ketika 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut.

Kapal Belanda menembakkan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau. Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Jos Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan.

Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Jos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".

Jasadnya terkubur bersama kapal KRI Macan Tutul yang tenggelam di dasar laut. Laksamana Madya Josaphat Soedarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925 dan meninggal di Laut Aru, 13 Januari 1962 pada umur 36 tahun adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.

8. Abdulrahman Saleh

Abdulrahman Saleh, yang akrab dipanggil Pak Karbol, bukan saja seorang perwira tinggi, pendidik, dan Pahlawan Nasional / Perintis TNI Angkatan Udara, tetapi juga perintis/pendiri Radio Republik Indonesia (RRI). Selain itu, beliau juga bapak fisiologi kedokteran Indonesia. Gelar lengkapnya adalah Komodor Udara Prof. dr. Abdulrahman Saleh, Sp.F.

Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, ia bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene Middelbare School) kini SMU, dan kemudian diteruskannya ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen).

Karena pada saat itu STOVIA dibubarkan sebelum ia menyelesaikan studinya di sana, maka ia meneruskan studinya di GHS (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tak pernah memaksakannya untuk menjadi dokter, tetapi karena saat itu hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia sempat giat berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

9. Agustinus Adisutjipto

Adisutjipto dilahirkan 3 Juli 1916 di Salatiga, mengenyam pendidikan GHS (Geneeskundige Hoge School) (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati.

Pada tanggal 15 November 1945, Adisutjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adisutjipto, untuk mengenang jasa beliau sebagai pahlawan nasional.

Beliau dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.

10. Raden Eddy Martadinata

Lahir di Bandung, Jawa Barat, 29 Maret 1921. Meninggal di Riung Gunung, Jawa Barat, 6 Oktober 1966 pada umur 45 tahun, atau yang lebih dikenal dengan nama R.E. Martadinata adalah tokoh Angkatan Laut RI dan pahlawan nasional Indonesia.

Dia tidak sempat menyelesaikan Sekolah Tehnik Pelayaran karena pendudukan Jepang. Selanjutnya ia masuk Sekolah Pelayaran Tinggi yang diselenggarakan Jepang. Selama mengikuti pendidikan, ia tampak menonjol sehingga diangkat menjadi Guru Bantu. Tahun 1944, ia diangkat sebagai Nahkoda Kapal Pelatih.

Dia menghimpun pemuda bekas siswa Pelayaran Tinggi dan mereka berhasil merebut beberapa buah kapal milik Jepang di Pasar Ikan Jakarta. Selanjutnya mereka menguasai beberapa kantor di Tanjung Priok dan Jl Budi Utomo Jakarta. Setelah pemerintah membentuk BKR, pemuda-pemuda pelaut bekas pelajar dan guru Sekolah Pelayaran Tinggi serta pelaut-pelaut Jawa Unko Kaisya yang dikoordinir oleh M. Pardi, Adam, Martadinata, Surjadi Untoro dll membentuk BKR Laut Pusat yang dalam perjalanannya berubah menjadi TKR Laut, diubah lagi menjadi TRI Laut dan bulan Februari berganti lagi menjadi ALRI.

11. I Gusti Ketut Jelantik

Gugur dalam sebuah pertempuran tahun 1949. Kemudian Dr Moewardi juga gugur saat peristiwa Madiun tahun 1948. I Gusti Ketut Jelantik (1849), adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Dia merupakan patih Kerajaan Buleleng.

Dia berperan dalam Perang Jagaraga yang terjadi di Bali pada tahun 1849. Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah "Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup aku tidak akan mangakui kekuasaan Belanda di negeri ini".

Perang ini berakhir sebagai suatu puputan, seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya bertarung mempertahankan daerahnya sampai titik darah penghabisan. Namun akhirnya dia harus mundur ke Gunung Batur, Kintamani. Pada saat inilah beliau gugur.

12. Dr. Moewardi

Lahir di Pati, Jawa Tengah pada 1907 dan meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, pada 13 Oktober 1948. Moewardi adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.

Di Solo, dr.Muwardi mendirikan sekolah kedokteran dan membentuk gerakan rakyat untuk melawan aksi-aksi PKI. Pada peristiwa Madiun dia adalah salah satu tokoh yang dikabarkan hilang dan diduga dibunuh oleh pemberontak selain Gubernur Soeryo.

*Diolah dari berbagai sumber

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini