Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sudan Tolak Kehadiran Marinir AS

Aulia Akbar , Jurnalis-Minggu, 16 September 2012 |17:35 WIB
Sudan Tolak Kehadiran Marinir AS
Foto : Pasukan Marinir AS (zimbio)
A
A
A

KHARTOUM - Amerika Serikat (AS) berniat untuk mengirimkan Marinir ke Sudan guna mengamankan kantor misi diplomatik AS terhadap ancaman serangan. Namun hal itu ditolak keras oleh Sudan.

Pada Jumat lalu, Kedutaan Besar AS di Tunisia dan Sudan diserang oleh para demonstran yang mengecam film SARA anti-Islam di AS. Demonstrasi yang terjadi di Kota Khartoum, Sudan dihadiri oleh 5 ribu orang. Mereka pun turut menyerbu Kedubes Inggris.

Pemerintah AS melaporkan bahwa mereka hendak mengirim pasukan Marinir ke Sudan untuk meningkatkan keamanan di kantor perwakilan AS. Namun Menteri Luar Negeri Sudan Ali Ahmed Karti mengatakan bahwa hal itu tidak perlu dilakukan AS.

"Sudan bisa melindungi seluruh misi diplomatik di Khartum dan Sudan berkomitmen untuk menjaga seluruh tamu-tamunya," ujar Karti, seperti dikutip Reuters, Minggu (16/9/2012).

Pejabat Sudan pun mengatakan, saat ini kedutaan-kedutaan besar dari negara asing sudah dilindungi dengan alat intai. AS juga sudah membatalkan pengiriman pasukan Marinir ke negara Afrika itu.

Saat ini, Kedubes AS di Sudan dijaga ketat oleh aparat kepolisian, begitu pula kantor Kedubes Jerman. Meski demikian, bendera hitam yang dibawa oleh demonstran masih terkibar di dekat kantor kedubes itu.

Jerman menjadi target serangan warga Sudan, karena Pemerintah Jerman mengizinkan demonstrasi kelompok ekstrim kanan yang membawa gambar karikatur Nabi Muhammad. Karikatur itu dibuat oleh seorang kartunis Denmark yang mendapat penghargaan Kanselir Jerman pada 2010 lalu.

(Aulia Akbar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement