nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perdana Ngajar, Dua Mahasiswa Ini Siapkan Cara Jitu

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Jum'at 23 Agustus 2013 04:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 08 22 373 854128 r3MIcxq54q.jpg Ilustrasi (Foto : Kemendikbud)

JAKARTA - Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah dengan tanggung jawab moral yang tinggi. Apalagi harus berhadapan dengan para siswa yang belum tentu bisa menerima kehadiran "orang asing."

Kendala ini yang juga dirasakan oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), Nurkholis Ainun Najib. Setelah menyandang gelar sarjana pendidikan, kini mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa itu akan mengabdikan diri di SD Ananda Islamic School, Kalideres.

Gugup? Tentu saja. Namun, berkat School Experience Program (SEP) selama empat tahun kuliah, Najib yakin mampu mengajar dengan baik. Lewat program tersebut, wisudawan berprestasi itu, mengaku diajak mengenal dari dekat kegiatan belajar mengajar dan mempraktekkannya.

"Pertama kali datang, para siswa belum bisa menerima kami. Tapi lama-kelamaan mereka justru merasa tertarik karena merasa ada yang baru di kelas mereka. Akhirnya, kami buat kesepakatan di awal. sehingga saat praktek bisa sama-sama enak," papar Najib, seusai seremoni wisuda angkatan pertama USBI di Sampoerna Strategic Square, Jakarta Selatan, Kamis 22 Agustus.

Tantangan berbeda dirasakan teman seangkatan Najib, Namirah Fatmanissa. Sebagai lulusan jurusan Pendidikan Matematika, dia merasa tantangan yang dihadapi menjadi dua kali lipat.

"Karena mengajar Matematika, tantangannya double. Mengajar saja sudah tantangan dan Matematika dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan bagi para siswa," jelas Namirah.

Setelah lulus, mahasiswa peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 itu akan kembali ke kota kelahirannya, Malang. Di sana dia akan mengajar Matematika di SMA 10 Malang. Untuk itu, dara berkerudung itu memilih melakukan pendekatan psikologis kepada para siswanya untuk mulai mencintai Matematika.

"Banyak anak yang sudah takut belajar Matematika. Untuk itu, saya akan melakukan pendekatan personal untuk mengetahui alasan di balik ketakutan mereka terhadap pelajaran tersebut. Bukan sekadar memaksakan kehendak kita kepada siswa," ungkap gadis kelahiran Malang, 11 Agustus 1991 itu.

(mrg)

Berita Terkait

Universitas Siswa Bangsa Internasional

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini