Kisah Manusia Batu di Kota Tua

Nina Suartika, Okezone · Kamis 20 Maret 2014 11:15 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 20 500 957992 4jtWsPIuBq.jpg (Foto: Nina Suartika/Okezone)

Jakarta Kota merupakan salah satu objek wisata bagi warga ibu kota dan sekitarnya. Banyak objek-objek wisata menarik yang bisa diambil di sini, salah satunya manusia batu. Sosok manusia batu ini baru mulai terkenal pada April 2013 setelah didirikan oleh Idris dan teman-temannya.

 

Panasnya matahari di jalan Taman Fatahillah membuat lapangan di taman tersebut terlihat terang. Di sisi lain, tepatnya di pinggir gedung Museum Fatahillah terlihat sosok manusia seperti batu.

 

Dengan mengenakan pakaian berwarna hitam dan wajah yang juga dicat hitam, manusia batu itu duduk di atas meriam yang menghiasi taman Fatahillah. Sambil membawa senjata seperti senapan, manusia tersebut dengan mimik muka datar dengan rela menjadi objek foto bagi para pengunjung di sekitar taman.

 

Idris adalah nama dari manusia batu tersebut. Dia mengaku menjalani profesi sebagai manusia batu sejak Juni 2011. Jalan kehidupan yang panjang membuatnya akhirnya di taman ini untuk menjadi manusia batu. “Ceritanya panjang sampai saya menjadi seperti (manusia batu),” katanya.

 

                                    ``                                  *****

Akhir bulan Mei tahun 2011. Idris sedang bersiap – siap untuk berjalan menuju Jakarta dari rumahnya yang berada di Bogor, Jawa Barat. Sambil membawa tas yang berisi pakaian seadanya, dia pun dengan penuh percaya diri bisa mendapat pekerjaan di ibu kota.

 

“Waktu itu tujuan saya ke Kota Tua. Saya hanya bawa satu baju yaitu kemeja karena niat saya mau cari kerja di sini, paling tidak kalau tidak diterima di mana pun saya bisa berdagang di sini,” katanya sambil tertawa yang memperlihatkan giginya yang putih di antara wajahnya yang berwarna hitam tersebut.

 

Dia pun berjalan dengan menggunakan kereta ekonomi tujuan Jakarta Kota. Sesampainya di Kota Tua, dia berjalan menyusur jalan – jalan di Kotu, singkatan dari Kota Tua. Kurang lebih hingga dua jam dia menyusuri jalanan Jakarta Kota, mulai dari Stasiun Kota hingga menuju ke Sunda Kelapa.

 

“Saya bingung waktu itu harus ngapain karena jujur saja saya tidak tahu saya harus usaha apa. Karena di sini sudah banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya dan masing – masing dari mereka sudah memiliki lapak (tempat) tersendiri,” katanya.

 

Setelah lelah menyusuri Jakarta Kota, dia pun akhirnya istirahat di taman Fatahillah. “Saat itu saya ingat banget posisi saya di bawah pohon besar yang jaraknya sekitar 30 meter dari meriam. Sambil merokok dan minum air saya memikirkan apa yang harus saya lakukan,” katanya.

 

Dia pun tidak ingin usahanya datang ke Jakarta akan sia – sia tanpa hasil. Sambil tetap terus duduk di bawah pohon tersebut, dia menatap ke meriam yang berada di depan Museum Fatahillah. Saat itu dia belum memiliki pemikiran untuk menjadi manusia batu.

 

“Waktu itu saya hanya melihat setiap orang yang datang ke sini pasti mereka akan datang ke meriam sambil berfoto – foto. Yang membuat saya menjadi terinspirasi untuk menjadi manusia batu yaitu ketika saya melihat ada serombongan anak – anak pelajar SMA yang datang, mereka langsung mengeroyok meriam tersebut. Dari situ saya berpikir kenapa saya tidak menjadi objek mereka juga,” katanya.

 

Keesokan harinya, Idris pun mengamini pemikirannya tersebut. Dengan mengenakan kostum seadanya dia lalu berdiri di atas meriam tersebut. “Waktu itu saya pinjam pakaian dari teman saya, saya bilang kalau saya ingin menjadi manusia batu dengan konstum tentara akhirnya teman saya meminjamkannya. Saya pun kemudian menjadi manusia batu di meriam tersebut,” kata Idris.

 

Hari pertama menjadi manusia batu membuat Idris meraih uang sekitar Rp 200 ribu. Saat itu belum ada manusia lain yang meniru gayanya. Namun hal yang merepotkan yaitu dia sempat diusik oleh sejumlah para pedagang yang ada di Kota Tua. Dia pun akhirnya menjelaskan maksud dan tujuannya menjadi manusia batu.

 

“Waktu itu saya bilang ke mereka kalau saya di sini memang bekerja tetapi saya dibayar dengan sukarela, saya tidak ingin dibayar karena kasihan karena tujuan saya yang utama yaitu menghibur mereka dengan menjadi objek foto mereka,” kata Idris dengan serius.

 

Baru 10 hari menjadi manusia batu, dia pun dikejutkan oleh kehadiran manusia batu yang lainnya. Saat itu, ada sekitar lima orang yang menjadi manusia batu. “Saya sih tidak masalah karena masing – masing dari kita jaraknya lumayan jauh. Kita sama – sama saling mengerti kalau kita di sini untuk mencari uang,” katanya.

 

Namun, hal tersebut kemudian membuat Idris menjadi terusik. Menurutnya, dirinya bersama manusia batu yang lain memiliki profesi yang sama yaitu sama – sama menjadi objek foto tetapi masing – masing dari mereka tidak ada yang pernah saling menyapa. “Saya bingung saya, karena dari kita hanya saling senyum saja kalau kemudian kita bertemu tetapi kita tidak pernah saling menyapa,” kata lelaki berusia 38 tahun ini.

 

Kondisi ini membuat Idris berinisiatif untuk mengumpulkan para manusia batu tersebut. Dia pun menyampaikan pendapat bahwa dia ingin membentuk sebuah komunitas yang bernama Komunitas Manusia Batu karena itu untuk menjaga kebersamaan mereka.

 

“Inisiatif saya diterima dengan baik oleh mereka. Awalnya waktu itu kita baru ada lima orang tapi seiring berjalannya waktu, kurang lebih sekitar dua mingguan setelah komunitas ini dibentuk ada lagi manusia batu yang lainnya, akhirnya saya putuskan bahwa kita akan menambah tetapi hanya sepuluh orang saja,” kata Idris yang juga ketua Komunitas Manusia Batu ini. Komunitas ini pun disepakati didirikan pada bulan April 2013.                                              

 

Menurut Idris, tidak ada kendala yang cukup menyulitkan ketika dia bersama teman – temannya mendirikan komunitas manusia batu. Karena masing – masing yang ada di Kota Tua juga memiliki komunitas sendiri, seperti komunitas rupa yang membuat lukisan untuk dijual.

 

Selain itu, komunitas ini juga tidak membatasi para manusia batu ini untuk bekerja. Mereka bisa bekerja kapan saja mereka mau. Jika memang ada yang bentrok, maka masing-masing harus mencari tempat sendiri untuk menjadi manusia batu.

 

“Masing-masing anggota komunitas kita itukan profesinya tidak hanya menjadi manusia batu saja, tidak seperti saya karena posisi saya saat ini kebetulan masih tidak bekerja. Dari mereka ada juga yang menjadi pedagang jadi tidak setiap hari mereka menjadi manusia batu,” kata Idris.

 

Namun, kata Idris, para anggota komunitas dipastikan semuanya akan hadir ketika hari libur. Karena di hari itu situasi di Kota Tua sangat ramai sehingga mereka akan menjadi objek foto yang menyenangkan. “Kalau hari libur pasti kita semua kumpul. Kalau begitu kita harus cari tempat masing – masing, seperti saya yang ada di atas meriam,” katanya.

                                                                        *****

 

Menurut Idris, posisi Komunitas Manusia Batu tidak hanya sebagai objek foto yang dibayar sukarela oleh para pengunjung Kota Tua. Para anggota juga memiliki sebuah program yaitu ingin membersihkan Kota Tua dari sampah – sampah yang berserakan.

 

“Kita ingin agar Kota Tua menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan. Untuk itu setiap minggunya kita mengumpulkan uang yang masing – masing anggota ditarik Rp 25 ribu. Uang tersebut kita gunakan untuk dibelikan tempat sampah, sapu, pengki dan alat kebersihan lain di Kotu. Kita juga memberikan sedikit uang untuk petugas kebersihan,” kata Idris.

 

Idris mengaku, hal ini membuat pihak Museum yang saat ini dikelola oleh Bank Mandiri tertarik. Pihak museum pun akhirnya mendukung upaya mereka untuk menjadi bagian dari museum sebagai manusia patung. “Jadi kalau dulu kita seperti anak tiri yang istilahnya kita di sini itu seperti tidak dianggap tetapi sekarang kita mendapat dukungan,” katanya sambil tertawa.

 

Usaha Idris membentuk Komunitas Manusia Batu pun saat ini berbuah manis. Hampir setiap minggu dia bersama para anggota komunitas mendapat tawaran untuk menjadi manusia batu di museum – museum, bahkan saat ini pun mereka ditawari untuk menjadi icon kampanye salah satu partai politik.

 

“Kalau sekarang baru satu yaitu PAN (Partai Amanat Nasional), kita diundang untuk menjadi manusia batu diacaranya mereka. Tapi kemungkinan ke depannya makin banyak lagi karena ada beberapa dari kita pernah diajak untuk hadir di acara nasional dan di sana hadir pejabat – pejabat tinggi Negara, salah satu Presiden SBY. Di acara itu banyak petinggi partai yang menanyakan komunitas kita,” katanya.

 

Idris mengaku bangga karena kehadiran manusia batu akhirnya diakui oleh pejabat Negara. Selain itu, banyak juga masyarakat yang ingin bergabung dalam komunitas ini. “Tetapi saya katakana sama teman – teman saya kalau kita hanya 10 orang saja karena saya tidak ingin kalau komunitas ini akhirnya menjadi komunitas yang komersil,” katanya.

 

Idris bercerita pernah ada seorang kawannya yang datang kepadanya sambil meminta untuk bergabung ke dalam komunitas manusia batu. Namun permintaan itu dia tolak. Dia pun menyarankan agar kawannya itu membentuk komunitas manusia batu di tempat lain.

 

“Waktu saya usulkan pada kawan saya ‘kenapa tidak kau bangun saja komunitas manusia batu yang ada di Monas?,’ katanya. Karena di Monas itu sangat luas dan di sana belum ada hiburan manusia batu. Pasti akan sangat menyenangkan jika di sana juga ada manusia batu. Akhirnya teman saya mengikuti saran saya dan sekarang mereka memiliki 15 anggota komunitas batu di Monas,” katanya dengan tertawa bangga.

 

Kebanggan Idris tidak hanya itu saja, karena menurutnya dengan adanya manusia batu maka dia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang – orang yang membutuhkan. Apalagi pekerjaan menjadi manusia batu tidak sesulit pekerjaan lain, mereka hanya berdiam diri saja tanpa harus bergerak.

 

“Di sini saya juga ingin membalikkan keadaan orang – orang yang bekerja. Karena pengalaman saya orang bekerja itu menuntut kecepatan, mereka bekerja dari pagi sampai sore dengan aktifitas yang cepat tetapi menjadi manusia batu tidak seperti itu, kita hanya berdiam sambil memandang ke arah depan,” kata Idris.

                                                                        *****

Menurut Idris, inspirasi menjadi manusia batu sebenarnya datang dari seorang wanita asal Brasil bernama Nikita. Wanita tersebut sering disapa Golden Angel. Menurutnya, Golden Angle adalah sosok wanita yang sangat sempurna. Dia sudah menjadi manusia batu selama 12 tahun dan dia pun pernah beberapakali meraih penghargaan dunia menjadi manusia batu.

 

“Kalau misalnya saya ditanya saya ingin difoto oleh siapa, saya katakana saya tidak ingin difoto oleh Presiden, Jokowi atau yang lainnya, tetapi saya ingin difoto oleh Golden Angel. Ia adalah inspirasi saya. Setiap malam saya pandangi fotonya sambil berharap akan bertemu dengannya,” kata Idris.

 

Hal itulah yang membuat Idris rela mengumpulkan uang hasil pekerjaannya selama menjadi manusia batu. Dia berharap tahun 2014 dia bisa pergi ke Brasil dan bertemu dengan Golden Angel untuk berfoto bersama.

 

“Tetapi ada teman saja anak IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang menyarankan saya tidak usah pergi ke Brasil, biar Golden Angel sendiri yang datang ke saya. Terus saya tanya bagaimana caranya,” katanya.

 

Idris bersama temannya itu pun akhirnya berniat untuk membuat sebuah acara penghargaan manusia batu se Indonesia. Acara tersebut akan mereka selenggarakan sebagai acara pertama di Indonesia karena saat ini Indonesia belum memiliki acara seperti itu.

 

“Kami sedang membangun draft nya. Kita juga akan siarkan ke dunia bahwa di Indonesia ada acara penghargaan manusia batu biar mereka juga tahu dan dari situ saya berharap Golden Angel akan datang,” katanya dengan raut wajah penuh harap.

 

Sambil merokok, dia menuruskan, saat ini persiapannya baru 30 persen. Namun dia optimis pada April 2014 mendatang bertepatan dengan didirikannya Komunitas Manusia Batu acara itu akan diselenggarakan. Dia juga berharap pemerintah Indonesia mendukung usahanya tersebut. Karena dia ingin Indonesia tidak menjadi Negara tertinggal di bidang seni.

 

“Manusia batu itu termasuk seni, kita ingin seni kita ini juga diketahui oleh dunia jadi tidak hanya disimpan di Indonesia saja. Karena saya yakin di belahan Indonesia yang lainnya ada juga manusia batu lainnya yang memiliki konsep yang sangat unik,” kata Idris.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini