nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ki Hajar Dewantara, dari Bangsawan yang Pahlawan

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Minggu 17 Agustus 2014 12:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 08 17 373 1025690 J47wd5fvD3.jpg Ki Hajar Dewantara (Foto: googleimages)

JAKARTA - Setiap 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Penetapan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia itu dilakukan berdasarkan hari lahir Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.

Kiprah dan jasa Ki Hajar Dewantara membuatnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Supaya lebih kenal bangsawan yang menjadi pahlawan ini, yuk, simak cerita tentang Ki Hajar Dewantara seperti dirangkum Kampus Okezone, Minggu (17/8/2014).

Keluarga bangsawan  

Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Pria kelahiran 2 Mei 1889  ini merupakan bagian dari keluarga keturunan Keraton Yogyakarta.

Pada usia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sejak itu, dia tidak lagi menggunakan gelar bangsawan di depan namanya.

Nama Hadjar Dewantara bermakna guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Filosofi pendidik atau Sang Hadjar sendiri memiliki makna seseorang dengan kelebihan di bidang keagamaan dan  keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Pendidikan dan pekerjaan

Ki Hadjar Dewantara menamatkan sekolah dasar di ELS (sekolah dasar Belanda). Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dokter Bumiputera atau Stovia. Karena sakit, Ki Hadjar Dewantara tidak dapat menyelesaikan pendidikan lanjutannya tersebut.

Berbekal kemampuannya menulis, Ki Hajar Dewantara menjadi wartawan di banyak surat kabar seperti Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, De Express, Poesara, Sedyotomo dan Midden Jaya. Tulisan-tulisannya membangkitkan dan membakar semangat kebangsaan dan antikolonialisme orang Indonesia.

 

Politisi

Tidak hanya menjadi wartawan, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam bidang politik. Dia bergabung ke Partai Boedi Oetomo. Kemudian, pada usia 24 tahun, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij  pada 25 Desember 1912 bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo. Ketiga pendiri Indische Partij dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia ini bertujuan mencapai kemerdekaan di Tanah Air. Indische Partij tidak diakui pemerintah Belanda karena mengusung nasionalisme serta persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk menentang Belanda.

Meski tidak diakui dan partainya dibredel, Ki Hadjar Dewantara tidak patah arang. Aktivitas politiknya jalan terus. Bahkan, dia ikut andil dalam kelahiran Komite Bumiputra pada 1913. Komite ini merupakan wujud protes masyarakat Indonesia terhadap rencana Belanda memperingati kemerdekaannya dan Prancis.

Salah satu protes Ki Hadjar Dewantara dituangkan dalam tulisannya di harian De Express yang berjudui “Als lk een Nederlander” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan ini berisi kritik pedas Ki Hadjar Dewantara terhadap rencana Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaannya dan Perancis di negeri jajahan dengan menggunakan uang rakyat Indonesia.  Tidak hanya itu, Ki Hadjar juga mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 Regerings Reglement  atau Undang-Undang Pemerintahan Negeri Jajahan yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda.

Tindakan keras Ki Hadjar membuatnya dibuang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo yang membelanya juga diasingkan ke Kupang dan Pulau Banda. Tetapi Tiga Serangkai ini meminta dibuang ke Belanda karena di sana mereka dapat mempelajari banyak hal. Permintaan tersebut dipenuhi. Akhirnya, Ki Hadjar yang baru menikah dengan R.A. Sutartinah harus berbulan madu di pengasingan sejak Agustus 1913.

Ilmu yang didapat di Belanda ini menjadi bekal Ki Hadjar Dewantara dalam mendirikan Perguruan Taman Siswa.

(faj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini