Prostitusi Online, Fenomena Lain Jasa Seks Terselubung

Nurul Arifin, Okezone · Rabu 10 September 2014 17:19 WIB
https: img.okezone.com content 2014 09 10 519 1037116 oBkWRA2EOP.jpg prostitusi, ilustrasi

SURABAYA - Fenomena Prostitusi melalui online semakin marak setelah lokalisasi Dolly dan Jarak tidak beroperasi. Sejumlah PSK yang biasanya beroperasi di lokalisasi Dolly dan Jarak tetap berada di Surabaya, namun mengubah cara untuk mencari uang melalui lelaki hidung belang.

Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto mengatakan, memang fenomena prostitusi Online memang marak. Tertangkapnya, Mami D beberapa waktu lalu bukan kasus yang pertama kalinya. Sebelumnya, memang ada yang lebih yakni Mucikari Keyko.

"Tidak ada daerah yang sukses seratus persen dalam memberantas Prostitusi. Ketika Dolly dan Jarak ditutup, justru Prostitusi terselubung yang marak, salah satunya adalah Prostitusi Online seiring era digital," kata Bagong, Rabu (10/9/2014).

Ia menjelaskan, ketika prostitusi konvensional diberantas pasti akan muncul prostitusi secara Online, karena era saat ini sangat memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Bahkan, kata Bagong, jika prostitusi online ini diberantas akan muncul prostitusi dalam bentuk lain.

"Intinya prostitusi tidak bisa dimusnahkan, hanya bentuknya saja yang bergantin," ujarnya.

Upaya Pemkot Surabaya yang menutup lokalisasi Dolly dan Jarak tujuannya adalah menghilangkan segala bentuk pelacuran di Kota Surabaya. Dalam perjalanannya, energi Pemkot Surabaya tidak sebanding harus mengurusi prostitusi saja. Sebab, selain prostitusi ada sejumlah masalah yang menjadi tugas pemerintah.

Meski Dolly dan Jarak telah ditutup, sejumlah PSK Dolly dan Jarak masih berada di Surabaya. Alasannya, pasar kota Surabaya sangat menjanjikan, di banding wilayah di luar Surabaya.

"Saya yakin pasti nanti akan ada kasus serupa yang dibongkar oleh pihak Kepolisian," ujarnya.

Sebelumnya, Polrestabes Surabaya membongkar Prostitusi yang dikendalikan oleh Dewi Sundari (25) warga Tandes, Surabaya. Perempuan yang akrab disapa Mami D ini memiliki 12 anak buah dengan tarif antara Rp1,5 Juta hingga Rp3 Juta. Prostitusi ini dikendalikan melalui BBM.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini