Suatu kali, ia pernah ditabrak oleh pengendara angkot hingga pingsan. "Saya ditabrak sama angkot, katanya si sopir remnya blong. Akhirnya saya dibawa ke kantor pos. Pas bangun-bangun saya sadar sudah pingsan beberapa jam," ceritanya.
Dalam sehari, Mahfud bisa mengumpulkan uang hingga Rp100 ribu. Karena keramahannya, tak jarang ia juga mendapatkan uang dengan nominal besar dari pengguna jalan. Hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun menjadi pengatur lalu lintas, ia bisa membiayai ke-4 anaknya bersekolah.
Atas kegigihannya membantu melancarkan arus lalu lintas, ia mendapatkan berbagai penghargaan. Seperti penghargaan Disiplin dan Tertib Lalu Lintas dari Pemerintah Kota Bogor tahun 2004 dan 2007. Sampai-sampai, ia pun diberikan seragam layaknya petugas pengatur lalu lintas sesungguhnya.
Selain menjadi juru parkir, ia juga tengah merintis usaha kecil-kecilan dengan membuka warung gorengan di depan rumahnya di Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor. "Saya jualan sama istri. Itung-itung buat nambah. Jadi sebelum berangkat saya bantu istri saya dulu siap-siapin untuk jualan, baru saya berangkat kerja," ungkap Mahfud.
Mahfud sadar bahwa ia takkan selamanya menjadi juru parkir. Di usianya yang telah menginjak usia ke-38 ini ia bercita-cita untuk memiliki sebuah toko. Bila dirinya telah berhenti menjadi juru parkir, ia bisa tetap menghidupi keluarganya dengan berdagang.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.