Share

Muhammad Nasir

Dini Listiyani, Okezone · Rabu 03 Desember 2014 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 03 17 1073958 muhammad-nasir-uAwsKjBRcy.jpg Menristek Dikti M.Nasir (foto: Okezone)

INDONESIA di era teknologi seperti sekarang sudah bukan saatnya lagi menjadi negara pengekor dan dikenal lamban dalam mengadopsi kecanggihan masa depan.

Karena itulah, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memahami betul cara mengembangkan teknologi tepat guna yang mampu menyasar dan mengena langsung ke masyarakat hingga pelosok desa.

Berangkat dari niat itu, diperlukan sosok menteri baru yang mampu mengelola potensi anak-anak bangsa dalam mengembangkan teknologi dan inovasi baru yang belakangan banyak mengalami kendala. Ini menjadi tantangan bagi Muhammad Nasir untuk menjawabnya.

Meski bukan berlatar belakang ilmuwan atau teknokrat, M. Nasir yang sebenarnya merupakan seorang ekonom dan pengelola anggaran ekonomi, diberikan harapan besar oleh Presiden Joko Widodo, khususnya di bidang riset dan penelitian teknologi di perguruan-perguruan tinggi, setelah resmi dilantik sebagai Menristek Dikti pada 27 Oktober lalu.

Ayah dari empat anakini memang bertekad menjadikan riset pendidikan tinggi negeri mampu bersaing dengan negara-negara maju. Bahkan, semasa menjabat sebagai Pembantu Rektor II di Universitas Diponegoro, ia bercita-cita ingin menjadikan lembaga pendidikan tinggi sebagai wadah untuk melakukan riset, pelatihan, hingga laboratorium.

Riset, penelitian, dan pengembangan, itulah yang pekerjaan rumah (PR) terbesar M. Nasir untuk menjadikan bangsa ini mampu bersaing dan sejajar dengan bangsa besar lain di dunia. Apalagi, Indonesia memiliki potensi besar untuk bisa menjadi negara dengan penghasil teknologi yang jauh lebih maju, khususnya di kalangan Asia.

Di sisi lain, pria dengan kesederhanaanya ini ternyata memiliki kedekatan dengan partai Islam besutan Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia juga dikenal di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai anggota dari Ikatan Sarjana NU Jawa Tengah.

Kariernya di dunia pendidikan terbilang pesat. Setelah pada 9 September 2014, Nasir terpilih menjadi Rektor Universitas Diponegoro untuk periode 2014-2018 menggantikan Sudharto.

Seharusnya, Nasir dilantik menjadi rektor pada 18 Desember 2014. Ia juga pernah terpilih sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponogoro pada 7 September 2010.

Menteri dari gabungan Kementerian dan Teknologi dengan Ditjen Pendidikan Tinggi ini merampungkan gelar sarjana di Universitas Diponegoro. Kemudian ia merampungkan program S-2 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sebelum akhirnya mendapat gelar doktor dari University of Science di Penang, Malaysia.

PROFIL PRIBADI

Nama lengkap: Prof. Drs. H. Muhammad Nasir, M.Si, Akt, Ph.D

Tempat/tanggal lahir: Ngawi, Jawa Timur, 27 Juni 1960

Nama Istri: Hasibyah

Anak: Empat

KARIER

- Pembantu Rektor II Undip

- Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip periode 2010-2014

- 29 September 2014 terpilih sebagai Rektor Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, menggantikan Prof. Sudharto untuk periode 2014-2018

- Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi – sekarang

PENDIDIKAN

- S-1 dari Universitas Diponegoro, Semarang

- Magister dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

- PhD dia kantongi dari University of Science Malaysia

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini