Raden Sujono kemudian meninggalkan Keraton Majapahit secara diam-diam, setelah dipaksa menikah oleh Prabu Brawijaya V. Dalam perjalannya mengembara, Pangeran Sujono dihadang oleh dua orang begal (rampok) bernama Simbarjo dan Simbarjoyo.
Raden Sujono berhasil mengalahkan Simbarjo dan Simbarjoyo dan keduanya pun sepakat mengabdi sebagai abdi dalem Raden Sujono.
Sementara sepeninggalan Raden Sujono, kondisi Majapahit mulai berubah. Semula adem ayem gemahripah lohjinawi, berubah menjadi pageblug (banyak musibah). Panen gagal, banyak hama wereng, dan timbul wabah penyakit.
Melihat kondisi Majapahit, Brawijaya V berdoa hingga akhirnya mendapat petunjuk dari Sang Hyang Widi bahwa yang bisa menyelesaikan masalah tersebut hanya Raden Sujono. Prabu Brawijaya V lantas memerintahkan pasukan mencari keberadaan Raden Sujono untuk membawanya pulang.
Raden Sujono menolak untuk kembali, namun ia memberikan saran dan prasarana yang harus dilakukan oleh Prabu Brawijaya V untuk memulihkan kondisi Majapahit. Lambat laun kondisi Majapahit memang pulih kembali.
"Berawal dari cerita itulah, Raden Sujono bisa menyelesaikan berbagai masalah maka sampai saai ini makamnya terkenal sebagai spesialis menyelesaikan masalah (bagi yang percaya)," terang Heri.