Warisan Dunia di Aceh Mangkrak Pascatsunami

Salman Mardira, Okezone · Jum'at 26 Desember 2014 16:43 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 26 340 1084223 warisan-dunia-di-aceh-mangkrak-pascatsunami-sWIeDi75o1.jpg Bangunan tahan gempa bantuan pemerintah Jepang (foto: Salman M/Okezone)

BANDA ACEH - Berbagai persoalan masih menghadang Aceh selepas 10 tahun tsunami berlalu. Banyaknya bantuan infrastruktur yang masuk usai bencana menjadikan beban tersendiri bagi pemerintah daerah. Salah satunya, persoalan merawat infrastruktur warisan dunia yang membutuhkan dana tak sedikit.

Setelah tsunami, banyak fasilitas publik lenyap disapu gelombang. Kemudian bala bantuan masuk dari berbagai negara di dunia, mengganti semua fasilitas tersebut menjadi bangunan baru. Jumlahnya bahkan melebihi dari yang dimiliki Aceh sebelum tsunami.

Sayangnya, kini sebagian aset itu terbengkalai dan tak terawat. Di antaranya adalah puskesmas pembantu bantuan Bulan Sabit Merah di Gampong Lambung, Banda Aceh. Gedung ini terbengkalai seperti rumah hantu, bagian plafonnya dibiarkan rusak dan dindingnya mulai keropos.

Selain itu, mesin penyulingan air yang dibangun Pemerintah Kuwait di Ulee Lheu untuk mengatasi krisis air bersih usai tsunami juga tak lagi difungsikan setelah tak disubsidi lagi. Mesin ini, kala itu, mengolah air laut yang asin menjadi tawar siap minum.

Selanjutnya gedung penyelamatan tsunami (escape buiding) juga demikian. Gedung berlantai empat bantuan Pemerintah Jepang ini dibangun di Lambung, Dayah Teungoh, Dayah Glumpang, dan Gampong Pie. Satu-satunya yang terawat adalah yang di Gampong Pie, karena di sana sekaligus dijadikan Kantor Pusat Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC) Universitas Syiah Kuala.

Selebihnya, terbiarkan begitu saja. Toiletnya rusak, pintu toilet sebagian juga tak ada lagi. Lantai dua dan tiga kotor dan berserakan sampah. Kabel-kabel listrik di plafon mulai copot dan sebagian lampu hilang. Dindingnya sebagian rusak dan tercoret-coret. Tiap kali simulasi tsunami digelar, gedung tahan gempa ini juga tak digunakan maksimal untuk edukasi.

Begitu juga dengan Gedung IT Learning Center bantuan Samsung yang dibangun di bekas pertapakan Gedung Bioskop Garuda, Banda Aceh. Gedung ini sama sekali tak berfungsi sebagaimana mestinya, hanya digunakan untuk kegiatan seperti pelipatan kertas suara jelang pemilu.

Berikutnya infrastruktur yang terbengkalai adalah Terminal Antarkota Dalam Provinsi di Saree, Aceh Besar. Terminal bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias ini juga belum berfungsi hingga kini. Tak ada aktivitas antar-angkut penumpang di sana, kios-kios sekitar terminal juga tertutup begitu saja.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini