Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus perdagangan anak mengalami peningkatan pada kurun waktu tiga tahun terakhir dari 410 kasus pada 2010 meningkat menjadi 480 kasus di tahun 2011 dan menjadi 673 pada 2012.
Koordinator End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia, Achmad Sofian mengatakan, berbagai faktor melatarbelakangi situasi ini. Misalnya tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya pendidikan, budaya ingin cepat kaya dan minimnya peluang untuk bekerja.
"Budaya konsumtif yang tinggi di kalangan remaja yang terus mengemuka saat ini juga menjadi faktor pemicu, selain maraknya jaringan kriminal lintas negara yang beroperasi di Indonesia," jelas Achmad, Senin (26/1/2015).
Dia menerangkan, pada 2013 penelitian ECPAT Indonesia menemukan seratus 150 ribu anak Indonesia yang dilacurkan dan diperdagangkan untuk tujuan seksual.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia antara 1972-2008, tercatat lebih dari 13.703 anak korban eksploitasi seksual di daerah-daerah tujuan wisata di 40 desa yang ada di enam propinsi, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Jawa Barat dan JawaTimur.
"Hingga saat ini, kami telah menangani 29 kasus kejahatan seksual terhadap anak, mulai dari proses di kepolisian hingga di pengadilan. Kami juga memberikan layanan integrasi terhadap korban," terangnya.
Sementara, lanjut Achmad, untuk kasus perdagangan seks anak saja, terdapat delapan kasus yang berhasil didampingi oleh ECPAT Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dari mereka diperjual-belikan sebagai pekerja seks, objek pornografi dan lain-lain.
"Sebagian dari mereka berada dalam usia produktif yang seharusnya ada di sekolah, mereka rata-rata berusia 14-16 tahun. Melihat kejadian-kejadian yang kian marak menimpa anak-anak dan remaja belakangan ini, sangat jelas bahwa anak dan orang muda sangat rentan menjadi korban eksploitasi seksual," tegasnya.
Achmad menyarankan, diperlukan sinergitas di antara setiap elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, guru sekolah, seluruh pemangku kepentingan dan tentu saja partisipasi anak dan remaja yang dapat berperan aktif dalam proses pencegahan terhadap masalah-masalah eksploitasi seksual dan perdagangan anak.
Bertepatan dengan Peringatan Bulan Peduli Terhadap Perdagangan Manusia, ECPAT Indonesia bekerjasama dengan kelompok siswa – siswa SMA yang tergabung dalam Klub Sosial bernama FACT CLUB (Fight Against Child Trafficking Club) dari Jakarta International School (JIS), menggelar konser seni bertajuk ACT (Anti Child Trafficking).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian serta memotivasi siswa–siswi, orangtua dan masyarakat dalam memerangi perdagangan manusia. Bersamaan dengan ini, dilakukan juga penggalangan dana untuk membantu anak dan remaja korban perdagangan dan eksploitasi seksual anak demi terciptanya masa depan nasib anak negeri ini.
Konser tersebut menargetkan kurang lebih 400 pengunjung dari berbagai kalangan termasuk siswa-siswi JIS, orangtua murid dan pengunjung lainnya. Konser ini akan menyuguhkan 18 penampilan dari lima sekolah termasuk JIS, Mentari, Raffles, BSJ (British School Jakarta) dan Sekolah Pelita Harapan.
Konser amal ini juga didukung oleh beberapa organisasi sosial yang berkaitan dengan hak asasi manusia, termasuk Rumah Faye, Save The Children dan Aksi-2015.
Presiden FACT CLUB, Beatrice Louise Tan, yang juga menjabat sebagai Presiden Tolong Anak-Anak (TAA), mengatakan, tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kepedulian dan partisipasi siswa-siswi JIS untuk memerangi perdagangan manusia serta meningkatkan aktivitas sosial dalam berbagai club dan proyek sosial yang terdapat di JIS.
Dalam satu tahun terakhir, FACT CLUB telah melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap perdagangan manusia. Beatrice mengatakan, siswa di JIS diajarkan untuk peka terhadap permasalahan sosial di lingkungan sekitar, salah satunya tingginya angka perdagangan manusia di Indonesia, terutama wanita dan anak-anak.
"Sebagai generasi muda, kami sangat percaya anak merupakan aspek penting dalam mendorong kemajuan bangsa. Oleh karena itu kita harus melindungi anak-anak, terutama mereka yang telah menjadi korban dengan menumbuhkan kembali harapan dan mimpi-mimpi mereka,” tutur Beatrice. (fmi)
(Stefanus Yugo Hindarto)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.