Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jembatan Gantung Putus, Bupati Lebak Tak Mau Disalahkan

Rachmad Faisal Harahap , Jurnalis-Senin, 16 Maret 2015 |18:29 WIB
Jembatan Gantung Putus, Bupati Lebak Tak Mau Disalahkan
A
A
A

BANTEN - Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan bahwa putusnya jembatan gantung di Kampung Sinday, Desa Pajagaan, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten yang menyebabkan puluhan orang terluka akibat tercebur ke Sungai Cibeurang, bukan semata-mata karena salah pemerintah daerah.

Iti mengatakan, jembatan gantung yang sudah berusia tua itu berpotensi putus jika ditumpangi banyak orang karena bebannya menjadi berat. Jembatan tersebut saat putus dilalui oleh 46 orang ditambah satu unit sepeda motor.

"Misal, satu siswa beratnya 30 kilogram, berapa jumlah jika kondisi bersamaan. Belum lagi ada kendaraan. Etisnya, alangkah baiknya kita bersama-sama mengantisipasi, jangan saat ada bencana Pemda dan bupati disalahkan," tegas Iti, di Desa Tambak, Kecamatan Simarga, Kabupaten Lebak, Banten, Senin (16/3/2015).

Iti melanjutkan, para siswa bukan hanya menyeberang saja, tapi jembatannya juga digoyang-goyang, sehingga berpotensi mengakibatkan kecelakaan. Dia mengakui, sebelum terputus, jembatan tersebut masih layak pakai. "Diperbaiki, cuma kan stimulan. Ada dari masyarakat. Jadi kami serahkan ke masyarakat, mana jembatan yang mau diprioritaskan bagi masyarakat," ujarnya.

Kebupaten Lebak mempunyai 960 unit jembatan gantung. Sebanyak 360 jembatan rusak berat. "Kalau misalnya Pemda tidak alokasikan ke daerah itu salah. Kita setahun ada 14 unit jembatan gantung kita alokasikan. Kita prioritas yang mana, jembatan ini masuk dalam wilayah genangan Waduk Karian. Kalau nanti waduk ini dibangun, maka akan sia-sia kita alokasikan sebesar Rp4 miliar dan cuma dipakai dua tahun. Sedangkan ada jembatan lain yang lebih parah dari ini," jelasnya.

Untuk membangun jembatan tersebut, kata dia, perlu dana Rp65 juta per meter dikalikan dengan panjang jembatan yaitu 150 meter. Jadi alokasinya sebesar Rp200 juta. "Makanya kita alokasikan dari bantuan tak terduga (BTT) sebanyak Rp200 juta untuk penanganan sampai ini tergenang jadi waduk. Jadi prediksinya untuk dua hingga tiga tahun dan antisipasi juga dari masyarakat, yaitu motor kalau lewat harus bergantian," ucapnya.

Dia melanjutkan, sejak lima tahun lalu, peringatan jembatan gantung tidak layak sudah ada, tapi tidak ada juga yang turun tangan. "Negosiasi Pemda dan masyarakat, jangan selalu Pemda dipojokkan. Saya tiap tahun selalu memberikan laporan existing kepada pemerintah provinsi. Tapi mana responsnya? Tiap tahun kami sampaikan dalam laporan existing, berapa jalan yang rusak," ungkapnya.

Disampaikannya, walaupun berganti-ganti menteri meski dirinya baru menjabat sebagai bupati sudah 1,5 tahun, sangat ironis Kabupaten Lebak yang dekat dengan Jakarta masih dalam situasi tertinggal seperti ini. Seharusnya dikerjakan bersama-sama.

"Kemarin CSR sampai datang ke sini. Padahal sebelumnya kita sudah ajukan buat CSR bahkan kayak ngemis-ngemis yang mau bantu Kabupaten Lebak. Kami tidak mampu, APBD kami hanya Rp2,1 triliun. Alokasi untuk pembangunan infrastruktur tahun ini sebesar Rp260 miliar. Jauh lebih tinggi dibanding provinsi," bebernya.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement