“Seiring waktu (bangkai) Dingo itu terlupakan. Kemudian pada 2014 ada rekan-rekan yang menceritakan kembali (sejarah Dingo) dan langsung mengingatkan saya. Kita pun langsung ke tempat itu lagi, ternyata masih ada,” beber Mayor Heri kepada Okezone.
Sayangnya ketika kembali ke situs itu, bangkai Dingo itu kondisinya kian memprihatinkan. Dari upaya mencari informasi, ternyata diketemukan indikasi bahwa sejumlah bagian, bahkan hingga mesin Dingo itu dijarah oknum-oknum pengusaha barang rongsokan.
“Engine (mesin) sudah tidak ada, gearbox juga. Yang tersisa tinggal body utama sama setirnya. September 2014 diputuskan kita ambil, kita restorasi, sampai bisa jalan pada akhir Februari. Pada teatrikal peringatan Serangan Oemoem 1 Maret, itu jadi test driver pertama Dingo-nya,” tambahnya.
Riset jadi satu tahap penting yang dikatakan Mayor Heri, demi bisa menghidupkan kembali ranpur yang sudah ‘mangkrak’ selama 67 tahun itu. Kini Dingo itu sedianya masih dalam tahap penyempurnaan sampai ke bentuk aslinya, sebelum akan diserah-terimakan kepada Kodam III Siliwangi.