Sementara di Pelabuhan Banyuwangi, Belanda menyerang pada 5 Juli. Akibatnya, pelayaran kapal India dari Banguwangi dibatalkan, sebelum bisa dilakukan lagi usai sekutu turun tangan.
Kendati begitu, 10 hari kemudian kapal-kapal perang Belanda menembaki lagi Pelabuhan Banyuwangi. Insiden tak hanya datang dari pihak Belanda, tapi juga dari konflik internal.
Ketika PM Sjahrir ingin mengecek kerusakan Pelabuhan Banyuwangi, rombongannya dicegat dan kemudian Sjahrir diculik “kelompok kiri” di Solo, yang ditengarai dikomandoi Tan Malaka.
Pihak India sempat “gamang” akibat kejadian yang kemudian jadi klimaks “Kudeta 3 Juli 1946” itu. Namun Presiden Soekarno lewat radiogramnya kepada K.L. Punjabi, menegaskan bahwa peristiwa itu tak berkaitan dan tak menurunkan niat pemerintah Indonesia merampungkan “diplomasi beras” tersebut.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.