“Berkuasa secara otoriter, menggunakan tentara untuk kepentingan kekuasaannya. Tindakan represif sudah barang tentu terjadi dalam sistem otoriter. Orang yang memerintah secara otoriter itu menutup semua, orang tak boleh bicara, orang tak boleh melakukan kegiatan,” tegasnya.
Bahkan salah satu Aktivis Mahasiswa ’98 dari Universitas Jakarta, Wahab Talaohu mengungkapkan bahwa terlalu banyak dosa-dosa yang dilakukan oleh Soeharto, sehingga sulit untuk disebutkan kembali. Kepemimpinan otoriter yang diterapkan oleh Soeharto membuat situasi saat itu menakutkan dan mencekam.
“Karena tidak ada kebebasan untuk bersuara, maka pada saat itu salah satu tuntutan kami, Pers harus punya kebebasan menulis, menyampaikan pendapat, lalu mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi selama 32 tahun Soeharto memimpin,” ujarnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.