Bahkan, pernah ada suatu kejadian dari air gentong. Pada saat itu ada dua warga dari luar Desa Maneron terlibat suatu pesoalan dan datang ke masjid peninggalan sunan maneron. Lalu kedua warga minum air gentong.
Ketika hendak meminum air gentong, masing-masing bilang jika dirinya berkata bohong sebelumnya akan berdampak buruk dalam kehidupan. Berselang beberapa hari, salah satu dari warga itu meninggal dunia.
Tidak tahu secara pasti kenapa orang itu meninggal, namun warga meyakini dia meninggal akibat termakan sumpahnya saat minum air gentong. Pasca-kejadian itu, situs tersebut sering dijadikan tempat warga untuk bersumpah demi mencari sebuah kebenaran.
"Cerita itu memang ada, tapi ini kepercayaan dari masyarakat luar. Banyak warga yang datang ke sini dari luar Madura, seperti Tuban dan daerah lain untuk berziarah dan mencari berkah," imbuh Rustam Aji.
Menurut Rustam, gentong sendiri merupakan peninggalan dari Sunan Maneron. Pengurus masjid mengisi air ke dalam gentong ketika sudah kosong, yang diambilkan dari sumur tua, yang ada di sekitar masjid. "Peziarah yang datang ke sini selalu meminum air gentong untuk keselamatan," paparnya.
Selain air gentong, pada teras masjid Jami' Baitur Rohman Al Bonang ada pohon kemuning yang sudah kering. Pohon ini persisnya berada di teras depan sebelah kanan atau utara masjid. Tinggi pohon sendiri sekira 2,5 meter.
Namun, warga sekitar tidak berani membuang pohon kering itu. Sebab, pernah ada kejadian ketika seorang tukang menebang pohon ini langsung sakit usai memotong pohon.