YERUSALEM – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu kembali berupaya menggagalkan negosiasi kesepakatan nuklir antara Iran dengan enam negara kekuatan dunia P5+1 (AS, Jerman, Prancis, Inggris, Rusia, dan China).
Menurut Netanyahu, melanjutkan negosiasi tersebut sama saja dengan memberikan kesempatan pada kelompok militan untuk terus berkembang.
Berbicara ketika menyampaikan dukacita kepada Mesir atas serangan di Semenanjung Sinai, PM Netanyahu mengatakan bahwa tidak hanya nuklirnya, Negara Iran sendiri merupakan ancaman yang lebih besar dibandingkan ISIS.
“Jelas tidak ada yang berpikir untuk mempertimbangkan memberikan ISIS senjata nuklir. Namun dalam negosiasi kesepakatan nuklir dengan Iran, negara-negara P5+1 sama saja seperti memberikan bom nuklir kepada kelompok ISIS,” ujar PM Netanyahu, seperti dilansir Russia Today, Sabtu (4/7/2015).
“Kita seharusnya tidak memperkuat satu pihak dengan mengorbankan yang lain. Kita perlu untuk melemahkan seluruh pihak dan mencegah mereka mengumpulkan kekuatan, serta melakukan agresi militer,” lanjut PM Netanyahu.
Netanyahu sendiri memang salah satu pihak yang menentang keras negosiasi kesepakatan nuklir Iran. Ia selalu menuduh bahwa kesepakatan nuklir itu hanya sebagai kedok untuk menciptakan senjata pemusnah masal yang bisa digunakan untuk menyerang Israel.
Sementara itu, negosiasi kesepakatan akhir program nuklir Iran yang saat ini berjalan di Wina, Austria, masih berjalan dengan alot. Meski demikian, tuntutan Iran yang ingin sanksinya dicabut telah menemui titik terang.
Iran akhirnya memperoleh kembali 13 ton emas senilai hampir USD500 juta atau sekira Rp6,6 triliun. Timbunan emas tersebut sempat tidak bisa dinikmati Iran karena terhalang sanksi nuklir. Emas tersebut dapat diperoleh kembali setelah Iran mengupayakannya dalam pembahasan nukril di Wina, Austria.
(Hendra Mujiraharja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.