Tolak 'Kesepakatan Trump', Iran Tuding AS Telah Melanggar Perjanjian Nuklir

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 16 Januari 2020 13:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 16 18 2153647 tolak-kesepakatan-trump-iran-tuding-as-telah-melanggar-perjanjian-nuklir-0AtRa4VqC7.jpg Foto: Reuters.

TEHERAN - Presiden Iran Hassan Rouhani pada Rabu menolak proposal untuk "kesepakatan Trump" (Trump deal) baru yang bertujuan menyelesaikan perselisihan nuklir dengan negaranya. Rouhani mengatakan bahwa proposal itu adalah tawaran "aneh" dan mengkritik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump karena selalu melanggar janji.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Selasa menyerukan agar Trump membuat pakta baru untuk menggantikan perjanjian nuklir 2015, yang disepakati Iran dengan negara-negara besar. Trump mengatakan dia setuju dengan Johnson bahwa "kesepakatan Trump" harus menggantikan kesepakatan nuklir Iran, mencegah Teheran memiliki senjata nuklirnya sendiri.

BACA JUGA: Iran Tolak Gagasan Kesepakatan Trump Terkait Sengketa Nuklir

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Rouhani mengatakan kepada Washington untuk kembali ke pakta nuklir, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). AS meninggalkan JCPOA pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran, yang sebelumnya dicabut sebagai ganti pengekangan program nuklir Iran.

AS mengatakan tujuan dari langkah itu adalah memaksa Teheran untuk menyetujui kesepakatan lebih luas yang membatasi kerja nuklirnya, membatasi program rudal balistiknya dan mengakhiri perang proksi regionalnya. Iran mengatakan tidak akan bernegosiasi selama sanksi tetap ada.

Teheran secara bertahap telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kepatuhannya terhadap JCPOA. Langkah Teheran tersebut mendorong Inggris, Prancis dan Jerman pada Selasa secara resmi menuduh Iran melanggar ketentuan dalam perjanjian mereka.

"Tuan Perdana Menteri di London ini, saya tidak tahu bagaimana pendapatnya. Dia mengatakan mari kita mengesampingkan kesepakatan nuklir dan laksanakan rencana Trump," kata Rouhani sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (16/1/2020).

"Jika Anda mengambil langkah yang salah, itu akan merugikan Anda. Pilih jalan yang benar. Jalan yang benar adalah kembali ke kesepakatan nuklir."

Iran membantah memiliki niat untuk memperoleh senjata nuklir dan mengatakan pelanggaran perjanjian itu akan dibatalkan jika Washington mencabut sanksinya terhadap Teheran. "Semua kegiatan kami berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)," kata Rouhani.

BACA JUGA: Tak Lagi Pedulikan Perjanjian Nuklir, Iran Hapuskan Batasan Pengayaan Uranium

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa penarikan Trump dari JCPOA membuat negosiasi dengan Washington tak ada gunanya.

“Saya memiliki kesepakatan AS dan AS melanggarnya. Jika saya memiliki kesepakatan Trump, berapa lama itu akan bertahan?" kata Zarif.

Dalam langkah terbesarnya dari perjanjian tersebut, pada 5 Januari Iran mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan semua batasan memperkaya uranium, yang tercantum dalam pakta tersebut.

Inggris, Prancis dan Jerman bereaksi dengan mengaktifkan mekanisme perselisihan dalam kesepakatan pada Selasa, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penerapan kembali sanksi-sanksi AS. Iran menyebut langkah ini sebagai "kesalahan strategis".

Meski begitu, Zarif mengatakan bahwa kesepakatan JCPOA sebenarnya belum mati. Dalam beberapa kesempatan dia menegaskan bahwa Iran akan menarik kembali langkah-langkah pelanggaran JCPOA yang telah diambil jika negara-negara Eropa juga mematuhi kewajiban mereka seperti yang tertera dalam perjanjian itu, termasuk mengenai pencabutan sanksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini